Kasih dan Kesetiaan

Jumat, 15 Juni 2018 – Hari Biasa Pekan X

200

Matius 5:27-32

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zina.”

***

Sudah pasti bahwa zina dilarang oleh Yesus. Namun, mengapa masih banyak yang jatuh atau malah menikmati perbuatan terlarang itu? Jawabannya pasti beragam. Apa pun alasannya, hentikan perbuatan itu dan kembalilah pada jalan yang dikehendaki Tuhan. Dengan tegas, Yesus tidak menghendaki umat-Nya berzina. Jangankan tidur dengan pasangan orang lain, mengingininya saja sudah dianggap zina, dan itu tidak dikehendaki Yesus.

Mengapa Yesus sangat tegas dan cenderung keras akan hal ini? Tampaknya karena pada masa itu orang-orang tidak melihat zina sebagai dosa yang serius. Banyak orang melakukannya dengan sengaja, yang lain menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar dan biasa.

Namun, Yesus ingin menegaskan bahwa perkawinan adalah sesuatu yang sangat berharga. Pasangan suami istri secara mutlak harus setia satu sama lain. Kasih dan kesetiaan memang tidak bisa dipisahkan. Omong kosong kalau ada orang yang selalu berkata, “I love you,” kepada pasangannya, tetapi yang bersangkutan mudah “jajan” di tempat lain. Omong kosong pula kalau ada yang bilang cinta, tetapi dalam keseharian selalu menyakiti hati keluarganya dengan tindakan dan perkataan yang kasar.

Sekali lagi, kasih dan kesetiaan tidak bisa dipisahkan. Mereka sudah menjadi satu sejak awal. Demikianlah janji perkawinan itu suci, sakral, dan kudus, sebab pada saat itu, dua pribadi berjanji di altar yang suci, di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir. Jangan melukai hati pasangan dengan mengumbar hawa nafsu, kemarahan, dan rasa benci.

Karena itu, saya sungguh sangat bersyukur kalau melihat pasangan suami istri yang terus-menerus mengusahakan keharmonisan dalam biduk rumah tangga mereka. Memang banyak orang berkata bahwa memperjuangkan hidup perkawinan zaman sekarang sungguh tidak mudah. Namun, saya yakin, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Ketika keluarga dalam keadaan guncang dan seolah-olah tidak dapat dipertahankan lagi, saya yakin masih ada banyak cara yang bisa dilakukan agar prahara itu segera berlalu. Semoga doa-doa kita dapat mendorong berseminya cinta kasih di antara keluarga-keluarga kristiani, termasuk merajut kembali kasih yang sempat retak. Mari terus-menerus memperjuangkan kasih dan kesetian sampai akhir, apa pun jalan hidup yang kita pilih.