Melarang Tuhan

Rabu, 4 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XIII

53

Matius 8:28-34

Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka: “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

***

Mendapatkan kenyamanan, ketenangan, dan keuntungan yang menggiurkan tentunya merupakan impian banyak orang. Ketika situasi itu sudah tercapai, sudah dinikmati, orang tidak ingin melepaskannya. Mereka akan berusaha mempertahankan kenyamanan, ketenangan, dan keuntungan tersebut dengan berbagai cara. Selain itu, rasa curiga juga dengan mudah mencuat. Setiap orang yang mendekat dicurigai akan mengganggu kenyamanan mereka. Tuhan dalam hal ini tidak dikecualikan. Ketika Tuhan hadir dalam segala kebenaran-Nya, Ia dituduh mencampuri urusan mereka.

Dua orang yang kerasukan setan di Gerasa menjadi gambaran orang yang kenyamanannya terusik karena kehadiran Tuhan. Kuburan merupakan lambang situasi tenang dan nyaman bagi setan-setan yang merasuki dua orang itu, sebab “tidak ada orang yang berani melalui jalan itu.” Sebagai simbol kematian, kuburan juga merupakan tempat yang cocok untuk setan-setan tersebut. Karena itu, ketika ada orang yang berani melewati daerah itu, mereka merasa tidak nyaman. Karena yang datang adalah Anak Allah, semakin jelas bahwa kenyamanan mereka pasti akan terganggu. Kekuatan dan kekuasaan mereka tidak ada artinya ketika berhadapan dengan Anak Allah. Karena itulah mereka hanya bisa berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami?”

Kita pun bisa jadi bersikap sama. Ketika berada dalam situasi nyaman, tenang, tenteram dan penuh keuntungan, sering kali kita melarang Tuhan untuk mendekat dan terlibat. Bisa jadi itu karena kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan keuntungan itu kita peroleh dengan cara mengorbankan orang lain. Jika ini yang terjadi, tidak bisa tidak, pada saatnya Tuhan pasti datang untuk mengoreksi kekeliruan tersebut.