Pemungut Cukai dan Pendosa

Jumat, 6 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XIII

70

Matius 9:9-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

Manusia dipanggil kepada kebaikan dan kekudusan. Karena itu, sangat wajar kalau manusia selalu berusaha untuk berbuat baik. Sayangnya, entah sadar atau tidak, dalam mengupayakan kekudusan itu, manusia sering kali kemudian jatuh dalam penghakiman.

Orang suka sekali membuat pengelompokan-pengelompokan. Pihak yang sama dilihat sebagai orang baik dan benar, sementara pihak yang berbeda dilihat sebagai orang salah dan jahat. Sebagai orang yang mengupayakan kebaikan dan kekudusan, tentu saja diri sendiri lalu dimasukkan ke dalam kelompok orang yang baik dan benar. Kelompok yang dinilai salah dan jahat cenderung ditolak dan dihindari.

Yang dilakukan Yesus sedikit berbeda. Ia memang mengajarkan dan melaksanakan kebaikan, serta mengupayakan kekudusan. Walaupun begitu, Ia tidak anti dengan orang-orang salah dan jahat. Alih-alih menghindari atau menyingkirkan, Yesus malah mendekati dan ada bersama mereka.

Yesus memanggil Matius, si pemungut cukai. Pemungut cukai adalah pekerjaan yang dianggap haram, najis, dan berdosa oleh orang Farisi. Yesus bahkan makan bersama kelompok yang dianggap salah dan jahat itu, yaitu para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit,” demikian Ia berkata. Kebaikan dan kekudusan tidak boleh diupayakan dengan cara menghindari atau bahkan menyingkirkan mereka yang salah dan jahat. Ketika kita menghindari dan menyingkirkan mereka sebenarnya kita sedang jatuh ke dalam kesombongan, sebab dengan itu kita merasa diri sudah saleh dan tidak memerlukan pertobatan.

Lebih dari itu, kebaikan dan kekudusan hendaknya tidak menjadi milik sendiri. Terjun bersama di dalam kelompok orang yang “salah jalan” untuk membawa mereka pada pertobatan juga merupakan sebuah upaya meraih kebaikan dan kekudusan.