Hidup Berdampingan dengan Sesama

Sabtu, 28 Juli 2018 – Hari Biasa Pekan XVI

119

Matius 13:24-30

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

***

Yesus tidak membentuk sebuah aliran yang “murni,” tetapi sebuah komunitas yang terbuka. Ia mengembara sambil mewartakan, tanpa yang disebut “kantor pusat.” Yang luar biasa, Ia bergaul dengan semua orang: pria dan wanita, juga orang saleh dan pendosa. Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah tertuju kepada semua. Benih ditaburkan-Nya kepada semua jenis tanah! Yesus memang amat realistis: pewartaan-Nya pasti ada yang menerima, ada pula yang menolak.

Meskipun Yesus menabur gandum, namun Ia tahu bahwa Iblis pun giat menabur lalang. Dua jenis benih ini total berbeda, namun akan tampak sama terutama di awal pertumbuhan. Keduanya baru tampak berbeda waktu gandum mulai berbulir. Karena itu, mencabut lalang di fase awal pertumbuhan akan berakibat fatal, sebab gandum akan ikut hilang. Si pemilik kebun pun membuat kejutan: ia membiarkan keduanya tumbuh bersama-sama sampai panen tiba. Tentu ia sadar, ada bahaya akar-akar lalang merusak gandumnya.

Kerajaan Allah dihadirkan di dunia oleh Yesus dan melalui Gereja-Nya. Namun demikian, setelah lebih dari dua ribu tahun, kejahatan dan dosa tetap ada di dunia, bahkan di dalam Gereja sendiri. Iblis tetap aktif mempertahankan kerajaan kejahatan miliknya. Selalu ada orang yang tidak percaya dan yang menyesatkan sesamanya. Berhadapan dengan mereka, kita mudah tergoda untuk memisahkan diri atau mengucilkan mereka.

Yesus tidak sepakat dengan “sikap farisi” seperti itu. Gereja adalah corpus mixtum: jemaat campuran yang terdiri dari anggota yang berkualitas gandum maupun lalang! Tentu saja selalu ada risiko orang benar disesatkan oleh orang jahat. Akan tetapi, bahaya yang jauh lebih besar adalah kesombongan dan kecaman dari orang benar yang berupaya melenyapkan setiap orang yang lemah dan berdosa dari persekutuan atau dari lingkungan masyarakat. Semua orang harus dibiarkan hidup berdampingan sampai akhir zaman.

Memisahkan dan mengadili bukanlah tugas kita. Tuhan sendirilah yang akan memisahkan dan menghukum para pendosa dan penyesat saat pengadilan definitif nanti. Dialah yang akan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatan masing-masing. Selama kita hidup di dunia ini, hendaknya saya dan Anda memperlihatkan kesabaran dan belas kasih Tuhan kepada sesama. Bukankah saya dan Anda pun senantiasa diberi harapan dan kesempatan oleh Tuhan setiap kali kita jatuh dan tersesat?