Keselamatan Allah Berlaku bagi Semua Bangsa

Minggu, 9 September 2018 – Hari Minggu Biasa XXIII

60

Markus 7:31-37

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

***

Bacaan Injil hari ini merupakan kisah perjalanan yang dilanjutkan dengan kisah penyembuhan. Yesus dikisahkan mengunjungi wilayah yang dihuni oleh orang-orang bukan Yahudi. Kali ini Ia sampai ke daerah Dekapolis. Bagi orang Yahudi, daerah orang asing adalah daerah najis. Mereka enggan memasukinya agar tidak tertular kenajisan. Kalaupun terpaksa harus ke situ, begitu pulang ke rumah masing-masing mereka harus buru-buru membersihkan diri agar kembali menjadi tahir. Daerah orang asing dengan demikian dipandang rendah, demikian juga orang-orang yang tinggal di situ.

Tradisi yang menyekat-nyekat dan membeda-bedakan manusia itu didobrak oleh Yesus. Mengapa manusia yang satu tidak boleh bergaul dan hidup bersama dengan manusia yang lain? Mengapa manusia yang satu menganggap diri lebih berharga daripada yang lain? Itu sungguh tidak bisa diterima. Demikianlah Yesus memasuki daerah Dekapolis tanpa beban. Ia bermaksud menyapa orang-orang di situ dan menghadirkan keselamatan Allah kepada mereka semua.

Keagungan karya keselamatan Allah langsung dirasakan oleh seorang warga setempat yang hidupnya selama ini menderita karena dirinya tuli dan gagap. Dengan penuh kuasa, Yesus memulihkan keadaan orang asing itu. Inilah langkah-langkah penyembuhan yang dilakukan Yesus beserta dengan maknanya:

Pertama, Yesus mengajak orang yang akan disembuhkan-Nya itu untuk menyendiri. Mukjizat penyembuhan yang akan dilakukan Yesus adalah sesuatu yang misterius. Proses bagaimana itu terjadi tidak perlu diketahui oleh masyarakat. Dalam konteks Injil Markus, hal ini berhubungan dengan identitas Yesus sebagai Mesias yang saat itu masih harus dirahasiakan, sebab belum waktunya untuk diungkapkan.

Kedua, Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu. Dengan menyentuh bagian tubuh yang bermasalah, Yesus menyalurkan tenaga penyembuhan dari dalam diri-Nya.

Ketiga, Yesus meludah, mengoleskan jari-Nya pada ludah itu, dan dengan jari itu menyentuh lidah si sakit. Pada masa itu, masyarakat berpandangan bahwa ludah mempunyai daya penyembuh. Dengan ludah-Nya, Yesus bermaksud memulihkan lidah orang itu yang selama ini terasa berat dan membuatnya susah berbicara.

Keempat, Yesus menengadah ke langit. Ini adalah sikap doa. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa kekuatan-Nya berasal dari Allah. Mukjizat yang Ia kerjakan merupakan wujud nyata karya Allah yang mengasihi manusia dan hendak menghadirkan keselamatan kepada semua orang.

Kelima, Yesus mengucapkan kata penyembuhan, yakni efata. Ini bukan mantra atau kata-kata magis yang mempunyai kekuatan pada dirinya sendiri. Untuk menghilangkan kesan itu, penulis Injil Markus segera memberikan terjemahannya, yaitu “terbukalah.” Efata dengan demikian sekadar seruan yang mewakili keseluruhan kuasa Yesus dalam menyembuhkan orang yang tuli dan gagap tersebut.

Demikianlah orang yang menderita itu pada akhirnya mengalami pemulihan. Ia dapat mendengar dan berbicara dengan lancar. Reaksi orang-orang yang melihat mukjizat ini patut dicatat. Meskipun dilarang menyebarluaskan peristiwa itu, mereka tetap melakukannya. Menyinggung kisah penciptaan (Kej. 1:31), mereka berseru, “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Menyinggung nubuat Nabi Yesaya (Yes. 35:5-6), mereka menyatakan, “Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Sukacita orang-orang itu adalah sukacita kita juga, sebab seperti mereka, kita ini adalah “orang-orang asing.” Akan tetapi syukurlah, Allah tidak mengecualikan kita. Di mata Allah, kita adalah juga anak-anak yang Ia kasihi. Ia senantiasa hadir bagi kita, mendukung kita pada saat-saat sulit, menghibur kita ketika sedih, serta memulihkan kita ketika menderita dan sakit. Atas segala kebaikan itu, tidak bisa tidak, kita mesti menanggapinya dengan syukur dan pujian yang tiada henti.