Kekerasan dalam Alkitab (1)

45

“Agama Kristen memiliki sejarah yang penuh kekerasan, yang pada masa sekarang sering dianggap berakar dalam Kitab Suci sendiri dan dalam cara kitab itu ditafsirkan serta diterapkan dalam pengembangan dan penyebaran agama Kristen” (Ariarajah, 2003:136). Anggapan buruk tentang sumber kekerasan yang ada dalam agama Kristen semacam ini mengharuskan kita untuk menyelidiki masalah kekerasan dalam Kitab Suci serta penafsirannya.

Memang, ratusan tindakan kekerasan dijumpai di halaman-halaman Alkitab. Di awal kisahnya, kita membaca bagaimana Kain membunuh adiknya dengan kekerasan, dan bukan hanya itu, juga bagaimana si pembunuh mendapat suatu perlindungan dari Allah yang mengandung kekerasan yang lebih besar lagi: “Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat” (Kej. 4:15). Lamekh menarik kesimpulan bahwa ia sendiri harus membalas dendam tujuh puluh kali lipat (Kej. 4:23-24). Beberapa halaman kemudian, kekerasan dikaitkan langsung dengan Allah: “Akan Kubinasakan manusia yang telah Kuciptakan itu, dan juga segala burung dan binatang lainnya, sebab Aku menyesal telah menciptakan mereka” (Kej. 6:7). Yang ironis ialah bahwa tindakan kekerasan Tuhan itu bermaksud menghapus kerusakan dan kekerasan dari bumi (Kej. 6:11-13).[1]

Kaitan Allah dengan kekerasan akan berlangsung terus dalam sebagian besar kisah Alkitab. Allahlah yang mendukung dan bahkan disebut sebagai pelaku pembunuhan anak-anak sulung di Mesir. Ia juga menjadi pelaku pemusnahan pasukan Mesir di Laut Teberau.

(Bersambung)

[1] E.G. Singgih, 1995:1-17. Di akhir karangan, Singgih memperlihatkan bahwa Deus Saevus adalah juga Deus Gratiosus yang tidak akan lagi menjadikan manusia jahat alasan untuk membinasakan bumi (Kej. 8:21).