Mengubah Pola Hidup Secara Total

Rabu, 12 Rabu 2018 – Hari Biasa Pekan XXIII

72

1 Korintus 7:25-31

Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.

***

Bacaan pertama hari ini (1Kor. 7:25-31) bisa jadi membingungkan umat zaman sekarang. Apakah dengan ini Paulus tidak respek dengan kehidupan berkeluarga? Apakah ia berpendapat bahwa hidup berkeluarga kurang bernilai dibandingkan hidup selibat? Agar tidak terjadi salah paham, baiklah kita berusaha memahami perikop ini dengan sebaik-baiknya.

Perlu diketahui bahwa seluruh 1Kor. 7 (sampai 1Kor. 11:1) adalah jawaban tertulis Paulus atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh jemaat Korintus. Paulus dipandang sebagai gembala jemaat, sehingga orang Korintus bertanya kepadanya mengenai hal-hal yang tidak mereka mengerti. Di sini seruan “waktu telah singkat” adalah pernyataan yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan karena menjadi dasar pemahaman seluruh nasihat Paulus kali ini.

Rasul Paulus sedang menantikan saat kedatangan Tuhan dan penghakiman bagi dunia yang diyakininya akan segera datang. Karena itu, meskipun berbicara tentang para gadis agar “tetap dalam keadaannya” dan tentang orang-orang beristri agar “berlaku seolah-olah mereka tidak beristri,” Paulus sebenarnya sedang mengajarkan tentang akhir zaman yang mendekat. Waktu yang singkat yang dimaksudkannya adalah saat kedatangan Tuhan yang segera tiba. Kedatangan Tuhan adalah saat yang mulia, saat yang akbar. Pada saat itu, segala wahyu Allah akan digenapi. Kristus akan dimuliakan dan pemerintahan-Nya akan disahkan.

Akhir zaman adalah saat yang luar biasa, jemaat pun perlu menyambutnya dengan melakukan hal yang luar biasa. Prioritas-prioritas dalam kehidupan dengan begitu perlu ditinjau lagi, kalau perlu diubah seratus delapan puluh jemaat. Secara keseluruhan, Paulus menasihati jemaat agar tidak memegang hal-hal duniawi – materi maupun kebiasaan yang berlaku di dunia – terlalu erat, sebab itu akan menggagalkan mereka dalam menyambut kedatangan Tuhan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Paulus tidak berpandangan bahwa orang yang berkeluarga kurang berkenan bagi Tuhan pada hari kedatangan-Nya. Nasihatnya kali ini ditujukan kepada kita semua, yang menikah, belum menikah, maupun yang tidak menikah. Siapkanlah diri kita dengan sebaik-baiknya menyambut datangnya akhir zaman. Bentuk konkretnya adalah dengan merenungkan, merefleksikan, dan melihat kembali gaya hidup kita masing-masing: sudahkah pada saat yang istimewa itu kita layak di hadapan Tuhan?