Maria, Bunda Kristus dan Bunda Kita

Sabtu, 15 September 2018 – Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

62

Lukas 2:33-35

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

***

Yesus yang tersalib, Maria, dan murid yang dikasihi. Marilah kita merenungkan peristiwa ini. Ada satu orang yang secara penuh menghayati kenyataan penebusan di dekat salib, yakni Maria. Di dalam dirinya, atas nama Gereja, Yesus melihat jawaban insani yang penuh terhadap tindakan kasih-Nya yang tanpa batas.

Sukar bagi kita untuk masuk ke dalam perjalanan yang dipilih dan ditempuh oleh Maria. Kita dapat belajar darinya apabila kita merenungkan kata-kata Yesus di kayu salib. Di situlah kita memahami sampai sejauh mana perjalanan ibu-Nya. Dia telah mengikuti Anak-Nya sampai akhir. Penulis Injil Yohanes memperlihatkan kepada kita seluruh adegan itu dengan menyajikan kata-kata Yesus kepada ibu-Nya.

Boleh kita membayangkan, sebagai ibu, Maria kiranya ingin memberikan nyawanya sendiri sebagai ganti nyawa Anaknya. Ia kiranya ingin mencegah kematian Yesus, betapa pun besar risiko yang harus dibayarnya. Namun, dengan cara yang mendalam dan misterius, Tuhan mengajar Maria agar menerima rencana ilahi bahwa Yesus yang tersalib, sang Juru Selamat, Dialah yang menyatakan kesempurnaan kasih Bapa.

Itulah puncak yang dramatis dalam kehidupan Maria, yakni ketika ia mesti melepaskan sepenuh-penuhnya Anak yang dikasihinya kepada Bapa untuk umat manusia. Namun, pada saat itulah ia menerima seluruh umat manusia dari Anaknya sebagai anugerah. Ibu Maria adalah orang yang – lebih dari orang-orang lainnya – sudah memahami arti persembahan kurban Yesus, arti cinta kasih untuk umat manusia, dan rencana Allah yang terkandung dalam persembahan itu. Maria bisa menerima semuanya itu sebagai anugerah. Inilah suatu kemanusiaan yang baru, kemanusiaan yang dirahmati kasih Allah dan yang dalam penyertaan kasih Allah mampu menjawab sapaan-Nya.

Sebuah doa dari buku Padupan Kencana berikut ini sangat baik untuk kita panjatkan: “Maria, kaulah ibuku! Kau tahu, aku ingin menjadi sepertimu, yang mulia dan pemurah, yang kuat dan tabah dalam penderitaan. Tapi kau kenal kelemahanku. Betapa keinginanku yang baik itu hanya tinggal sebagai keinginan selalu. Oh Ibu, biarkanlah aku jadi matang menuju kesempurnaan dan kebijaksanaan yang kau miliki dalam kebaikanmu! Nyalakanlah dalam diriku terang hidupmu, yang dapat membuatku akhirnya serupa dengan Yesus Kristus, Putramu, Tuhan dan Allahku.”