Imanku adalah Keyakinanku

Minggu, 16 September 2018 – Hari Minggu Biasa XXIV

52

Markus 8:27-35

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”

***

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman membagikan pengalamannya kepada saya. Waktu itu, dia baru pulang dari mengunjungi pamannya yang sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu. Saat berjumpa dengan pamannya, teman saya ini kaget. Pamannya sudah kelihatan lebih tua dari usianya dan sakit-sakitan.

Namun, yang lebih mengharukan bagi dia adalah cerita pamannya. Dulu, semua anggota keluarga pamannya beriman Katolik, tetapi kini hanya tinggal dia seorang diri. Anak-anaknya berjanji akan merawat dia dengan sebaik-baiknya jika dia mengikuti mereka beralih iman. Sambil bercerita, pamannya seketika itu juga menarik sesuatu dari bawah tempat tidurnya, yang ternyata sebuah peti mati. Pamannya berkata, “Aku sudah siap mati secara Katolik meskipun tidak ada satu pun anakku yang akan merawat jenazahku. Bagiku imanku adalah keyakinanku. Yesus adalah Tuhanku.”

Iman yang kokoh adalah iman yang berakar kuat pada relasi dan pengalaman pribadi dengan yang diimani. Iman yang demikian tidak akan terguncang oleh berbagai macam tantangan dari luar diri. Iman menjadi sebuah keyakinan pribadi.

Injil hari ini menyajikan sebuah cerita yang menarik untuk direnungkan: apakah iman kita sudah menjadi sebuah keyakinan pribadi? Ataukah sekadar mengikuti apa kata orang? Ada dinamika dalam pertanyaan Yesus kepada para murid-Nya: dari yang general ke personal, dari “apa kata orang” ke “apa katamu.” Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” dan kemudian Dia bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Jawaban para murid yang diwakili oleh Petrus bukan sekadar sebuah pengetahuan yang diperoleh dari pendapat kebanyakan orang (baca: “kata orang”), tetapi merupakan sebuah keyakinan pribadi yang dalam dan kuat tentang siapa Yesus. Mereka sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias. Keyakinan Petrus dan teman-temannya berbeda dengan apa yang diyakini oleh kebanyakan orang pada waktu itu. Keyakinan pribadi ini tumbuh berkat relasi personal yang intensif dengan Yesus.

Keyakinan pribadi bisa salah jika hanya mengandalkan daya pikir atau logika manusia belaka atau didasarkan pada suatu harapan tertentu. Petrus salah memahami Mesias. Bagi Petrus, juga kebanyakan orang pada waktu itu, Mesias adalah seorang raja yang akan membawa kejayaan kembali bagi bangsa Israel seperti zaman Raja Daud. Oleh karena itu, menurut logika manusiawi mereka, tidak mungkin Mesias akan ditolak, menderita sengsara, bahkan dibunuh. Keyakinan pribadi perlu selalu dimurnikan agar tidak keliru.

Apa yang bisa kita petik dari Injil hari ini? Gereja Katolik di Indonesia beberapa tahun terakhir berbicara mengenai katolisitas. Katolisitas yang dimaksud di sini adalah pengetahuan dan pembatinan iman Katolik. Ajaran iman tidak akan mengakar kuat jika tidak menjadi milik pribadi. Ajaran iman bukan sekedar menjadi “apa kata orang” (baca: menurut Gereja, menurut pastor, menurut guru agama, atau menurut katekis), tetapi harus menjadi “menurut saya” (baca: hati nurani dalam diri setiap orang Katolik). Di sisi lain, katolisitas juga menuntut orang untuk membuka pikiran dan hatinya agar mampu menyelaraskan atau memurnikan paham imamnya dengan ajaran Yesus Kristus dalam Kitab Suci, dengan Tradisi Suci, dan dengan ajaran Gereja Katolik yang kudus.