Kekerasan dalam Alkitab (3)

35

Menafsirkan perang suci

Kekerasan yang menurut Alkitab Ibrani diperintahkan atau bahkan dilakukan Allah menimbulkan masalah bagi pembaca dan penafsir dahulu maupun sekarang. Apa maksud kisah seperti itu? Menurut suatu cerita Yahudi, ketika para malaikat mengangkat nyanyian pujian seusai pembebasan Israel di Laut Merah, Allah mengatakan pada mereka, “Pekerjaan tangan-Ku telah mengeringkan laut! Bernyanyikah kamu?”[1]

Aneka macam keterangan yang berbobot telah diberikan. Ilmu sejarah telah menunjukkan bahwa kisah-kisah tentang perang YHWH dalam karya sejarah Deuteronomistik merupakan konstruksi teologis pada masa kemudian. Pembinasaan total musuh-musuh sebagai kurban kepada Tuhan tampaknya bukan pembunuhan nyata yang pernah terjadi demikian dalam sejarah Israel kuno, tetapi gagasan teologis dari pengarang Deuteronomistik pada masa dominasi Asyur beberapa abad kemudian. Dengan memperlihatkan perang YHWH, pengarang bermaksud meneguhkan umat yang menderita di bawah kekuasaan Asyur, tetapi tidak bermaksud mengajak mereka untuk melakukan demikian juga pada zaman mereka sendiri (Lohfink, 1991:109-14). Keterangan ini penting, tetapi kurang membantu pembaca biasa yang tidak mengetahuinya.

Ada juga yang mengingatkan bahwa kisah-kisah tentang perang YHWH yang diwarnai kekerasan perlu dibaca dalam konteks sejarahnya, yakni pada latar belakang kehidupan suku-suku padang pasir di Timur Tengah yang terus-menerus mengadakan peperangan untuk dapat menguasai bagian-bagian kecil tanah yang subur agar bisa bertahan hidup. Tidak mengherankan bahwa ilah-ilah mereka juga digambarkan sebagai pejuang yang memberi umat kemenangan dalam perebutan tanah subur itu. Cerita-cerita kekerasan suku-suku Israel dalam Yos. 1 – 11 dan kitab Hakim-hakim perlu dibaca dalam konteks petani-petani yang hidup di bawah tekanan tuan-tuan tanah Kanaan.[2] Pendekatan ini membantu untuk lebih memahami kadar kekerasan yang ada, tetapi apakah juga sekaligus membenarkannya?

Sementara itu, ada pakar yang berusaha melegitimasi kekerasan dalam kisah-kisah itu dengan memperhitungkan konteks penindasan yang dialami. Brueggemann menulis: “YHWH mengizinkan Yosua dan Israel untuk bertindak demi keadilan dan demi membebaskan mereka dari musuh yang menindas” … “YHWH berpihak pada mereka yang terpinggirkan, para petani yang tertindas, melawan monopoli negara kota.”[3] Di sini kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang tertindas untuk melawan kekuatan senjata musuh dipandang sebagai tindakan yang benar.

Dipahami sebagai konstruksi teologis atau dalam konteks sejarah, atau bahkan dibenarkan sebagai satu-satunya jalan keluar dari penindasan sistematis, semuanya itu tidak mengurangi kenyataan bahwa kekerasan menjadi gejala yang menonjol dalam gambaran tentang Allah dan umat-Nya dalam Alkitab Ibrani. Bagaimana kita harus memaknai kenyataan dalam kisah itu?

(Bersambung)

[1] Talmud Babel, Megillot 10b; dikutip oleh Lefebure, 2003:92.

[2] Hens-Piazza, 2001:201. Pengarang ini juga menyatakan bahwa konteks komunitas pembaca juga penting. Pembacaan Yosua dan Hakim-hakim oleh lingkungan yang berada di daerah elite akan menghasilkan interpretasi dan apresiasi yang berbeda dengan pembacaan yang dilakukan oleh lingkungan umat yang tertindas di wilayah kumuh.

[3] Demikian Walter Brueggemann dalam tafsirannya tentang Yos. 11 (1986:17-8).