Menjalin Persahabatan

Jumat, 1 Maret 2019 – Hari Biasa Pekan VII

131

Sirakh 6:5-17

Tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan orang yang damai denganmu banyak adanya, tetapi hanya satu dari seribu hendaknya menjadi penasehatmu. Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya. Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan. Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu. Pada waktu engkau sejahtera ia adalah seperti engkau sendiri dan lancang berbicara dengan seisi rumahmu. Tetapi bila engkau mundur maka ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu. Jauhkanlah diri dari para musuhmu, tetapi berhati-hatilah terhadap para sahabatmu. Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya. Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.

***

Sahabat mempunyai peran penting dalam kehidupan kita. Yesus bin Sirakh menyatakan bahwa orang yang mendapatkan sahabat itu seperti menemukan suatu harta. “Sahabat setia tidak ternilai harganya, dan tak ada yang dapat dibandingkan dengan dia.” Ia menjadi teman yang dapat kita mintai pertimbangan sebelum kita mengambil sebuah keputusan. Ia mendengarkan keluh kesah kita ketika kita mengalami kesedihkan dan ingin didengarkan. Ia mengurangi, bahkan menghilangkan, kesedihan yang kita hadapi sehingga ia menjadi seperti obat bagi kita. Selain itu, “Sahabat yang setia seperti tempat perlindungan yang aman.” Ketika kita sedang menghadapi ancaman, sahabat yang sejati akan menolong kita untuk menghadapinya. Kepada sahabat seperti itu kita akan lari mendekat untuk meminta perlindungan, dan kita percaya bahwa dia akan melindungi kita.

Bin Sirakh mengingatkan, “Orang yang takut kepada Tuhan dapat menjalin persahabatan sejati karena ia memperlakukan sahabatnya seperti dirinya sendiri.” Kita tidak bisa menjalin persahabatan kalau kita hanya memandang sahabat sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan kita atau hanya untuk melayani kepentingan kita sendiri. Kita dapat menjalin persahabatan yang sejati jika kita memperlakukan sahabat seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Seperti kita ingin didengarkan ketika berkeluh kesah, demikianlah kita mendengarkan sahabat kita. Seperti kita ingin dilindungi ketika menghadapi ancaman, demikianlah kita melindung sahabat kita. Seperti kita ingin mendengarkan pertimbangan sebelum mengambil keputusan, demikianlah kita memberi pertimbangan kepada sahabat kita.

Mengingat pentingnya sahabat, bin Sirakh mengingatkan supaya kita berhati-hati dalam mencari sahabat. Jangan sampai orang yang baru kita kenal langsung kita jadikan sahabat. “Jika engkau mau bersahabat, jangan segera percaya kepada orang; cobalah dahulu apakah ia setia” (ay. 7). Kita harus memperhatikan baik-baik orang itu untuk melihat kesetiaannya. Setelah yakin akan hal itu, barulah kita menjadikan dia sahabat. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat menjadi sahabat. Bin Sirakh mengingatkan kenyataan ini: “Ada kawan yang menjadi lawan karena pertengkaran, lalu ia mempermalukan engkau dengan menceritakannya kepada semua orang,” selain itu, “Ada juga kawan yang ikut makan bersama engkau, tetapi meninggalkan engkau di kala engkau susah.” Bagaimanapun, bin Sirakh mengingatkan supaya orang berbicara sopan dan ramah serta hidup damai dengan banyak orang. Hanya orang yang demikian akan mendapat banyak sahabat.