Komunikasi yang Baik

Minggu, 3 Maret 2019 – Hari Minggu Biasa VIII

78

Lukas 6:39-45

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

***

Sabda Tuhan hari ini berfokus pada hubungan sosial kita dengan sesama. Ini merupakan hal yang sangat dekat dengan keseharian kita. Kita semua terkait dengannya. Setiap orang dihadapkan pada kehadiran dirinya bagi orang lain dan kehadiran orang lain bagi dirinya. Banyak penelitian bahkan berkata bahwa hal yang sangat menentukan bagi berhasil atau tidaknya seseorang dalam hidupnya adalah kecakapannya dalam menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, apa yang disampaikan dalam sabda Tuhan hari ini merupakan hal yang esensial bagi kita semua.

Ada pepatah Latin yang berbunyi: Nemo dat, quod non habet, artinya: Tidak seorang pun dapat memberikan sesuatu yang tidak dia miliki. Perihal komunikasi yang baik dengan orang lain, ini berarti kita harus memiliki sesuatu yang baik, yang dapat dikomunikasikan dengan mereka. Tanpa modal dan dasar itu, komunikasi yang baik tidak mungkin dapat terjalin.

Untuk itulah Yesus meminta kita untuk melatih diri agar kita memiliki sesuatu yang baik dalam perbendaharaan hati kita. Amat sangat mungkin bahwa perbendaharaan yang baik itu akan tampak dalam cara komunikasi kita, yang sangat sering kita lakukan ketika kita berbicara dengan orang lain. Kiranya apa yang dikatakan Yesus – bahwa orang dapat diuji lewat apa yang ia sampaikan dalam perkataannya – sangat patut kita ingat dan kita simpan dalam hati. Lewat perkataan seseorang, kita dapat menilai ketulusan hati. Lewat perkataan seseorang, kita dapat menilai kejujuran. Lewat perkataan seseorang, kita juga dapat melihat kedalaman hati orang itu. Perbendaharaan hati yang baik akan keluar dalam bentuk kata-kata yang baik. Sebaliknya, perbendaharaan hati yang kurang baik juga menunjukkan bahwa telinga kita sering disinggahi kata-kata yang kurang baik.

Perkataan kita adalah bagian integral diri kita. Memiliki kesadaran ini merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi kita. Namun, sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Kita merasa bahwa perkataan bukan bagian dari diri kita, sehingga sering kali perkataan yang kita ucapkan lebih ditujukan kepada orang lain. Itulah kiranya yang terjadi ketika Yesus menegur kebiasaan orang Yahudi yang sering tajam melihat “selumbar di mata saudaranya,” tetapi buta melihat “balok di matanya sendiri.” Yesus mengkritik kecenderungan buruk itu.

Hal itu masih sering terjadi dan kita alami juga pada zaman sekarang ini. Yang menarik dari apa yang disampaikan Yesus dalam hubungannya dengan kualitas kata-kata yang keluar dari mulut kita ialah bahwa kita sering kali tidak sadar dari mana datangnya kata-kata yang kita keluarkan ketika asyik berbicara tentang keburukan orang lain. Kita juga tidak sadar ketika mata dan hati kita cenderung melihat kekurangan orang lain, lalu sibuk membicarakannya ke mana-mana dengan penuh semangat.

Apa yang kita lihat sebenarnya adalah hasil kerja pikiran dan hati kita. Apa yang kita ucapkan sebenarnya adalah luapan dari dalam diri kita. Karena itu, ketika seseorang berbicara tentang kekurangan orang lain, orang itu sebenarnya sedang mengungkapkan kekurangannya sendiri. Karena itu, marilah kita semakin melatih diri untuk menyadari hal itu. Marilah kita berusaha untuk menjadi orang yang cakap dalam berkomunikasi, orang yang cakap dan tangkas dalam menyampaikan hal-hal yang baik kepada semua orang. Hal ini penting bagi kita teristimewa agar mampu mewartakan Kabar Baik ke seluruh dunia.