Tuhan Beserta Kita

Jumat, 8 Maret 2019 – Hari Jumat Sesudah Rabu Abu

52

Matius 9:14-15

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

***

Ketika orang berbuat dosa, dari dalam hatinya akan muncul suara yang memberikan teguran, serta bermaksud mencegah agar perbuatan itu tidak berlanjut lebih jauh. Namun, orang-orang berdosa sering kali mengabaikan teguran itu. Mereka “menulikan” telinga dan terus saja melakukan perbuatan yang tidak baik. Dengan itu, mereka mengabaikan kehadiran Tuhan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Itulah kiranya perbedaan antara berdoa dan berdosa. Ketika berdoa, kita mengawalinya dengan tanda salib; ketika akan berdosa, kita tidak mungkin melakukan itu. Dengan doa, kita akan merasakan kehadiran Tuhan yang membuat hidup kita senantiasa aman dan damai; tetapi dengan dosa, kita sengaja melupakan Tuhan dan menolak kehadiran-Nya dalam hidup kita.

Dari situ kita bisa merenungkan makna bacaan Injil hari ini. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus tentang para murid-Nya yang tidak berpuasa, Yesus memberi jawaban yang mengundang tanda tanya, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?”

Puasa dalam tradisi bangsa Israel bisa jadi dilakukan dalam nuansa duka, misalnya puasa dalam rangka meratapi derita dan sengsara akibat perbuatan dosa. Mereka berpuasa karena merasa jauh dari Allah. Allah yang adalah sang Mempelai bangsa pilihan dirasa tidak bersama mereka. Dalam konteks itu, ketika Tuhan ada bersama mereka, puasa menjadi tidak masuk akal. Orang justru seharusnya bersukacita, sebab merasakan berkat Tuhan yang sangat melimpah. Demikianlah Yesus menggambarkan situasi yang sedang dialami oleh para murid-Nya. Mereka tidak perlu berpuasa, sebab sang Mempelai, yakni Dia sendiri, sedang ada bersama-sama dengan mereka.

Saat ini kita sedang menjalani Masa Puasa. Kita tentu sadar bahwa diri kita tidak lepas dari dosa dan kelemahan. Kita semua mudah jatuh pada kelemahan dan dosa. Karena itulah kita perlu bertobat, termasuk dengan berpuasa, di mana kita diajak untuk menahan diri dari berbagai macam nafsu dan ketidakteraturan lainnya.

Akan tetapi, bacaan Injil hari ini mengungkapkan bahwa sesungguhnya kita bisa lebih kuat dan tidak gampang jatuh ke dalam dosa kalau kita setia kepada Tuhan. Kita akan dimampukan untuk melawan godaan dan bujukan dosa kalau kita mau bersama-Nya. Dari pihak Tuhan, Ia senantiasa hadir dalam hidup kita. Ia selalu setia mengingatkan dan menasihati kita.

Kitalah yang menjauhkan diri dari-Nya. Ketika orang Israel bermazmur dan menyanyikan lagu ratapan yang berbunyi, “Jangan Engkau palingkan wajah-Mu, ya Tuhan,” sesungguhnya merekalah yang memalingkan wajah dari Allah, yaitu dengan terus berbuat dosa.

Hal yang sama terjadi pada kita. Sering kali kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kita kita, Tuhan tidak peduli kepada kita. Sesungguhnya, kitalah yang menjauh dari-Nya. Kitalah yang tidak peduli kepada-Nya. Meskipun demikian, Tuhan senantiasa bersama kita, senantiasa menguatkan dan memberdayakan kita.