Daya Kata-kata Kita

Jumat, 15 Maret 2019 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

57

Matius 5:20-26

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

***

Sungguh luar biasa bahwa kehidupan manusia di dunia dilengkapi dengan bahasa sebagai sarana komunikasi. Meski ada beragam bahasa yang mungkin membuat komunikasi dengan orang lain tidak mudah, namun manusia juga diberi kemampuan untuk mempelajari bahasa-bahasa tersebut. Bahasa manusia tidak lepas dari kata, kalimat, serta ungkapan. Melalui kata dan ungkapan, banyak hal bisa terjadi dan berlangsung dengan mudah dan lancar.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menyadari betapa kata-kata dan ungkapan memiliki daya yang begitu besar. Ungkapan yang keluar dari mulut kita mengandung akibat, baik bagi orang yang menerima ungkapan kita maupun bagi diri kita sendiri. Misalnya, perkataan “kamu anak yang rajin” dari seorang bapak kepada anaknya yang akan berangkat ke sekolah tentunya akan membuat anak itu bersemangat dan berbesar hati. Berbeda misalnya seorang guru yang mengatakan “kamu bodoh” kepada seorang murid yang nilainya jelek. Murid itu bisa jadi akan terluka dan sakit hati.

Karena itu, Yesus mengajak kita untuk tidak dengan mudah mengungkapkan hal-hal yang negatif dan buruk tentang orang lain. Hal itu bisa-bisa membuat diri kita celaka, sementara orang lain yang menerima ungkapan kita juga akan mengalami ketidaknyamanan, bahkan mungkin saja terluka.

Secara lebih mendalam dibicarakan tentang ungkapan kepada sesama sebagai suatu kesatuan dalam relasi seseorang dengan Tuhan. Ungkapan positif atau negatif kepada sesama akan berdampak pada hubungan kita dengannya. Ungkapan yang baik akan membuat hubungan dengan sesama menjadi baik, demikianlah juga sebaliknya. Dengan jelas, Yesus mengajak kita semua untuk membangun hubungan yang baik, termasuk melalui ungkapan kita kepada sesama, dan itu ditempatkan dalam rangka hidup kita sebagai orang beriman yang membangun relasi dengan Allah.

Membangun relasi yang baik dengan sesama berarti membangun relasi yang baik dengan Allah. Karena itu, marilah kita sadari segala ungkapan dan kata-kata yang kita ucapkan kepada sesama kita. Apakah kata-kata tersebut membuat orang lain bersemangat untuk menjalani kehidupannya dengan lebih baik? Ataukah sebaliknya, kita justru sering mengucapkan kata-kata yang melukai sesama?