Makan Pagi Bersama Yesus

Minggu, 5 Mei 2019 – Hari Minggu Paskah III

117

Yohanes 21:1-14

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

***

Makan pagi bersama Yesus yang bangkit dengan menu roti dan ikan bakar tentu saja merupakan saat yang istimewa. Mari kita meninjau arti penting perjamuan ini bagi Petrus. Perjamuan bersama ini dapat dilihat sebagai awal pemulihan diri Petrus. Di depan api arang, ia dahulu menyangkal Yesus, tetapi sekarang dia diundang ikut perjamuan bersama Yesus, juga di depan api arang. Petrus pula yang melaksanakan perintah Yesus untuk mengambil ikan-ikan hasil tangkapan para murid. Karena ketaatan Petrus, sebuah keajaiban terjadi lagi: meskipun menyeret begitu banyak ikan, jala itu tidak koyak.

Demikianlah Petrus yang hilang sekarang telah kembali. Makan pagi bersama Yesus menjadi tanda bahwa murid-murid Yesus seluruhnya telah mengalami transformasi. Bersama-sama dengan Petrus sang pemimpin dan murid yang dikasihi Yesus, para murid sekarang mengenali Yesus sebagai Tuhan yang bangkit.

Penyangkalan Petrus telah diampuni. Ia dipulihkan dan mantan nelayan yang sederhana ini siap menjadi pemimpin para rasul dan orang-orang yang beriman kepada Kristus. Perjamuan istimewa di tepi Danau Tiberias menjadi tandanya, dan yang mengambil inisiatif untuk itu tidak lain Yesus sendiri. Tentunya tidak boleh dilupakan tanggapan dari pihak Petrus yang menyambut ajakan Yesus dengan positif dan sangat antusias, sampai-sampai ia terjun ke air karena ingin menjumpai Yesus dengan segera. Petrus diterima kembali dengan tangan terbuka. Kepadanya dipercayakan jemaat Kristus yang sangat banyak jumlahnya, dan penulis Injil Yohanes seakan menubuatkan kemampuan Petrus ketika berkata, “Sungguhpun (Petrus menarik jala berisi ikan) sebanyak itu, jala itu tidak koyak.”

Bandingkan Petrus dengan Yudas. Yang satu menyangkal Yesus, yang lain menyerahkan-Nya kepada musuh. Sebagai murid-murid pilihan, perbuatan kedua orang itu sama-sama tidak pantas dan mengecewakan. Namun, kiranya setiap manusia pernah mengalami kegagalan, sehingga yang lebih perlu diperhatikan adalah bagaimana sikap kita setelah mengalami kegagalan itu. Jika setelah itu kita memilih untuk berhenti, terpuruk, dan tidak mau berkembang lagi, itulah jalan yang dipilih Yudas. Petrus memilih jalan yang lain, yang pantas kita teladani. Setelah melakukan kesalahan, dia mau kembali.

Tawaran Yesus kepada Petrus berlaku juga bagi kita. Banyak kali kita telah berbuat dosa, melakukan hal-hal yang mengkhianati nilai-nilai yang diajarkan oleh Yesus. Mungkin juga kita pernah menyangkal atau bahkan meninggalkan Dia. Separah apa pun dosa dan kesalahan kita, tidak ada kata terlambat untuk kembali. Kita dapat pulih sejauh kita mau.  Yesus mengundang kita untuk hadir dalam perjamuan yang diselenggarakan-Nya. Ia akan menyambut kedatangan kita dengan senyum dan tangan yang terbuka lebar-lebar.