Tetap Setia dan Percaya

Senin, 3 Juni 2019 – Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga dan Kawan-kawan

45

Yohanes 16:29-33

Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

***

“Tuhan tak pernah janji, Tuhan tak pernah janji, langit selalu biru, jalan selalu rata. Tetapi Dia berjanji, tetapi Dia berjanji, selalu menyertai, berikan kekuatan. Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa. Mukjizat Tuhan ada, bagi yang setia dan percaya.”

Dalam bacaan Injil hari ini, para murid berkata, “Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Ungkapan iman kepercayaan ini dinyatakan oleh para murid setelah Yesus tidak lagi berbicara dengan menggunakan bahasa kiasan. Namun, mengejutkan bagi kita bahwa Yesus tidak menanggapi iman kepercayaan itu dengan pujian, syukur, atau bahkan perasaan senang karena para murid sudah semakin percaya kepada-Nya. Yesus malah menanggapi seruan tersebut dengan nada negatif, yakni dengan bernubuat bahwa akan tiba saatnya para murid tercerai-berai, menyangkal, dan meninggalkan Dia.

Yesus tentu tidak berharap para murid tercerai-berai dan meninggalkan-Nya, tetapi Ia melihat itulah yang kelak akan terjadi. Karena itu, Yesus mengantisipasinya dengan mengatakan bahwa Bapa akan tetap setia menyertai diri-Nya. Pada akhirnya Yesus menguatkan hati para murid agar mereka memperoleh damai sejahtera.

Percaya kepada Yesus tidak cukup hanya diungkapkan secara verbal, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Ini sama dengan percaya kepada nasihat dokter – bahwa supaya sehat kita harus istirahat cukup, olahraga teratur, dan menghindari rokok – yang baru berdaya guna kalau kita menaatinya.

Iman kepercayaan kita memang sering kali akan mengalami ujian. Ketika kita menghadapi persoalan-persoalan hidup yang menyesakkan – seperti kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang-orang yang kita kasihi, doa yang seakan tidak segera dijawab Tuhan, dan lain sebagainya – masihkah kita tetap percaya bahwa Ia senantiasa setia menyertai kita?

Lagu rohani karya Edward Chan di atas kiranya menggambarkan pesan bacaan Injil hari ini dengan tepat. Semoga kita tidak pernah menyerah dan percaya dengan teguh bahwa Ia akan selalu setia menyertai kita.