Pemimpin yang Sejati

Rabu, 5 Juni 2019 – Peringatan Wajib Santo Bonifasius

47

Yohanes 17:11b-19

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

***

Pesta demokrasi lima tahunan telah terlaksana tahun ini pada tanggal 17 April lalu. Meski demikian, panasnya suhu politik ternyata masih terasa sampai beberapa waktu kemudian. Ini karena salah satu kontestan pemilu merasa tidak puas dengan hasil yang mereka capai. Sungguh sangat disayangkan, karena terlalu bersemangat ingin berkuasa, ingin menjadi pemimpin, mereka tidak siap menerima kekalahan. Siapa yang menjadi korban dalam hal ini? Tentu saja korbannya adalah rakyat. Rakyat diadu domba, sehingga kemudian terpecah belah.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyadari bahwa Ia tidak akan selamanya berada bersama para murid-Nya. Suatu saat nanti – bahkan tidak lama lagi – Ia akan meninggalkan dunia ini untuk kembali kepada Bapa. Sebagai pemimpin, Yesus tidak ingin para murid tercerai berai setelah kepergian-Nya dari dunia ini, bagaikan anak-anak ayam yang kehilangan induknya.

Karena itu, dalam perjamuan malam terakhir, Yesus berdoa kepada Bapa agar para murid tetap rukun bersatu, saling menaruh cinta kasih, serta dilindungi dari segala yang jahat. Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan dibenci, diserang, bahkan dibunuh karena iman mereka terhadap-Nya. Yesus tahu bahwa Ia mengutus para murid bagaikan domba di tengah-tengah kawanan serigala. Maka dari itu, Ia berdoa bagi murid-murid-Nya agar mereka tetap setia mengikuti kebenaran, yakni firman Allah.

Bagi kita, Yesus merupakan contoh pemimpin yang mampu melindungi, mendampingi, dan memberi kesejukan. Ia tidak memikirkan kepentingan diri-Nya sendiri. Sebelum meninggalkan para murid, Ia berdoa supaya para murid dilindungi dari yang jahat. Karena itulah, meskipun secara fisik Ia tidak dapat kita lihat, kita percaya bahwa Ia tetap mendoakan dan menyertai kita untuk selamanya. Semoga kita tetap setia kepada-Nya, dan senantiasa mengusahakan untuk hidup rukun dengan semua makhluk ciptaan Tuhan.