Mempercayai dan Dipercayai

Minggu, 7 Juli 2019 – Hari Minggu Biasa XIV

78

Lukas 10:1-9

Kemudian dari itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.”

***

Pengutusan para murid untuk pergi ke kota-kota dan banyak tempat lainnya menegaskan bahwa mereka mendapat kepercayaan dari Yesus. Kepercayaan ini merupakan salah satu bentuk tindakan mengasihi yang diteladankan Yesus secara sempurna. Kasih akan tercipta jika ada kemauan untuk saling percaya. Kita tahu tentang latar belakang para murid yang sebagian besar bukan dari golongan terpelajar, melainkan dari orang-orang “lapangan.” Artinya, jika dilihat dari sisi kualitas, sebenarnya pantas bila Yesus meragukan mereka. Seseorang yang menjadi utusan umumnya harus memiliki skill yang unggul, sehingga isi pesan yang dibawanya dapat tersampaikan dengan baik. Karena itu, utusan biasanya orang yang cakap dan cerdas.

Namun, cara Yesus dalam memilih utusan sungguh inspiratif. Berbeda dengan kebiasaan umum, Ia cenderung mengutamakan rasa percaya terlebih dahulu, alih-alih keunggulan kualitas ataupun mentalitas. Apa yang dilakukan Yesus ini menjadi teladan bagi kita agar mampu memandang setiap orang secara sama dan seimbang. Kendati skill para murid berbeda-beda, tetapi Yesus tetap memberi tugas kepada mereka secara sama. Di hadapan Yesus, setiap orang adalah sama, sehingga secara sama pula mereka akan mendapat rahmat dan berkat.

Dengan mempercayai para murid-Nya, Yesus sungguh memanusiakan mereka. Ia memberdayakan para murid, sehingga mereka berkembang dan termotivasi untuk memberi pelayanan yang terbaik bagi-Nya. Memang, dalam hidup ini, saling percaya merupakan unsur terpenting untuk memicu tumbuhnya kedamaian, ketenteraman, dan kenyamanan bersama. Jika rasa saling percaya sudah hilang, yang akan muncul adalah praduga penuh kecurigaan, juga kecemburuan dan kekacauan yang berakhir pada konflik. Suami istri yang sudah tidak lagi saling percaya satu sama lain, misalnya, banyak yang akhirnya mengusahakan perceraian dengan alasan perbedaan kepribadian atau alasa-alasan lainnya. Rasa saling percaya menjadi tali perekat keutuhan hubungan manusia satu dengan yang lain.

Bagi para murid, pengutusan merupakan jalan untuk mengalami pembaruan hidup. Pengutusan juga menjadi kesempatan untuk belajar mengemban tanggung jawab secara sungguh-sungguh. Yesus dan para murid saat itu sama-sama merasa gembira. Yesus sebagai pengutus bergembira karena para murid mau membantu-Nya, sedangkan para murid bergembira karena dilibatkan dalam pelaksanaan karya keselamatan.

Pada akhirnya, keberanian Yesus mempercayakan tugas kepada para murid memperlihatkan kerendahan hati. Yesus tidak sombong dan tidak bermaksud memamerkan diri bahwa hanya Dia sajalah yang mampu mewartakan Kerajaan Allah. Sebaliknya, Yesus justru turut melahirkan dan mengembangkan kader-kader pewarta yang baru. Mari kita renungkan bersama: apakah selama ini kita mampu memberi kepercayaan kepada orang lain? Atau, apakah kita cenderung menganggap diri hebat, sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain? Apakah kita juga sudah mampu dipercaya oleh orang lain karena keutamaan-keutamaan hidup yang ada pada diri kita?