Berani Proaktif

Senin, 8 Juli 2019 – Hari Biasa Pekan XIV

84

Matius 9:18-26

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

***

Bacaan pertama hari ini (Kej. 28:10-22a) mengajak kita untuk berani mengandalkan Tuhan. Alasan untuk mengimani Tuhan sebagai andalan tidak lain karena adanya janji berkat bagi manusia, seperti yang dialami oleh Yakub. Yakub menerima berkat Tuhan dalam bentuk penyertaan, perlindungan, dan keselamatan. Apa yang dianugerahkan Tuhan membuat Yakub dan keturunannya mendapat berkat yang melimpah. Kita patut merenungkan: bagaimana caranya agar kita mendapatkan berkat dari Tuhan? Mungkinkah kita hanya diam, menunggu, dan tidak berbuat apa pun?

Jawabannya ada dalam bacaan Injil: kita harus memiliki sikap proaktif. Kepala rumah ibadat bersikap proaktif: ia datang kepada Yesus, meminta agar Yesus membangkitkan anaknya.  Perempuan yang sakit pendarahan juga bersikap proaktif: ia menjamah jubah Yesus demi memperoleh kesembuhan. Tindakan proaktif merupakan langkah yang diperlukan untuk menerima berkat Tuhan. Sikap ini juga menunjukkan tingkat kualitas iman yang mumpuni, sebab dengan ini orang membuktikan secara nyata bahwa dirinya berani mengandalkan Tuhan.

Mari kita belajar dari tokoh-tokoh yang muncul dalam bacaan hari ini, yakni Yakub, kepala rumah ibadat, dan perempuan yang sakit pendarahan. Dari mereka, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa proaktif itu tidak hanya terbatas pada masalah doa. Dari segi spiritualitas, doa merupakan motor penggerak, sehingga setelah berdoa seharusnya ada sesuatu yang kita lakukan. Yakub membuat tugu peringatan, kepala rumah ibadat mendatangi Yesus, dan perempuan yang sakit pendarahan menjamah jubah Yesus. Sikap proaktif menghasilkan tindakan yang konkret. Karena itu, jika kita selama ini merasa sudah rajin berdoa tetapi Tuhan rasanya belum mengabulkan doa-doa kita, kita tampaknya perlu mengadakan evaluasi: sudahkah kita “bergerak” melakukan suatu tindakan? Ataukah kita terlalu nyaman dalam zona ekstase doa, sehingga – entah sadar atau tidak – melupakan tindakan proaktif.

Teguhkan diri dan andalkanlah Tuhan dalam segala situasi. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Dia senantiasa memahami hal-hal yang kita butuhkan. Jika kita berani mengandalkan Tuhan, sebenarnya kita telah sampai pada tahap “memiliki harapan.” Dengan adanya harapan itulah perjalanan kita akan tetap memiliki jalur yang jelas, yaitu menuju pada keselamatan dan kesatuan dengan Tuhan.