Ketika Mengalami Penolakan

Jumat, 2 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XVII

75

Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.

***

Risiko seorang murid, utusan, pewarta, bahkan nabi adalah mengalami penolakan. Meski isi pewartaan yang bersangkutan bagus, pengajarannya menarik, bahkan dapat memperbarui hidup banyak orang, pasti tetap saja ada orang yang mencibir, menolak, dan memusuhi. Itu dilakukan entah dengan terus terang, entah dengan bisik-bisik kanan kiri. Lebih-lebih jika latar belakang sang pewarta yang sering kali banyak kekurangannya diketahui pihak lain. Orang kemudian dengan mudah mencibirnya, meremehkannya, dan tidak mau percaya kepada pewartaan yang disampaikannya. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Sebagai pewarta, pembawa suara kebenaran, murid-murid Yesus diajak untuk tetap tekun dan tabah dalam menjalankan tugas. Ketika mengalami penolakan, tidak perlu kita bersedih, putus asa, jengkel, atau sakit hati. Baiklah mereka yang tertutup hatinya akan kabar kebenaran, sukacita, dan kebaikan didoakan agar Allah sendiri yang membuka hati orang-orang itu. Lagi pula, kita harus menyadari bahwa masih banyak orang yang membutuhkan, bahkan haus dan lapar akan warta sukacita Injil.

Yesus telah memberi kita teladan bagaimana bersikap yang benar tatkala pewartaan yang kita bawa ditolak oleh orang lain. Ia sendiri telah mengalaminya, yaitu ketika kehadiran-Nya tidak diterima justru oleh kalangan yang mengenal-Nya. Dalam keterbatasan, Kabar Baik dan mukjizat tetap dikerjakan oleh-Nya. Yesus tetap berusaha memuaskan dan meneguhkan orang-orang yang terbuka hatinya, mereka yang tetap bersedia mendengarkan dan percaya akan pewartaan-Nya. Sebagai seorang utusan, Yesus benar-benar menjalankan tugas-Nya dengan sepenuh hati. Ia yakin akan penyertaan Bapa yang mengutus-Nya.

Demikianlah, tugas seorang utusan adalah menyampaikan kabar. Kita harus fokus pada tugas tersebut. Mengenai keterbukaan hati para pendengar, serahkanlah itu kepada mereka sendiri dan juga kepada Allah. Kita harus percaya bahwa orang-orang itu punya niat baik, dan bahwa Allah akan bekerja untuk menyentuh dan menyapa mereka. Kiranya hal itu meneguhkan kita semua, sehingga kita tetap kuat dalam menanggung segala kesulitan saat kita menjalankan tugas sebagai utusan-utusan Allah.