Rahmat untuk Mengampuni

Kamis, 15 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XIX

37

Matius 18:21 – 19:1

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

***

Allah Israel bukanlah Allah dalam kenangan. Allah Israel adalah Allah yang nyata dan ikut campur tangan dalam sejarah hidup umat-Nya. Kehadiran nyata itu tampak dalam bacaan pertama hari ini (Yos. 3:7-10a, 11, 13-17) yang berkisah tentang Yosua dan bangsa Israel yang dipimpinnya. Bersama-sama, di bawah tuntunan Tuhan, mereka bergerak memasuki Tanah Terjanji.

Bukan hanya di masa lampau, bukan hanya terhadap orang Israel, sesungguhnya Allah juga berperanan dan ambil bagian dalam perjalanan sejarah hidup kita. Ia hadir dalam setiap momen hidup kita sehari-hari. Kita akan merasakan hal itu jika bersedia sejenak mengambil waktu untuk merenungkannya. Pertanyaannya, apakah kita mau membuka hati akan campur tangan Allah? Sering kali kita lebih suka jauh dari Allah, alasannya supaya bebas. Kita berseru-seru memanggil Allah hanya ketika merasa membutuhkannya.

Sementara itu, bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kepada kita mengenai pengampunan menurut konsep Yesus. Pengampunan dibutuhkan ketika kita sudah mengalami sakit atau luka batin karena orang lain. Pengampunan akan membebaskan bukan hanya orang lain, tetapi juga diri kita pribadi. Segala beban akan dibebaskan apabila kita mengampuni orang lain.

Namun demikian, kerap kali model pengampunan kita adalah model pengampunan yang memendam kesalahan. Mengampuni memang tidak mudah untuk dilakukan. Hal itulah yang mendasari pertanyaan Petrus. Yesus tidak menyetujui model pengampunan yang disampaikan Petrus. Menurut Yesus, pengampunan yang sejati adalah pengampunan yang memerdekakan kedua belah pihak, sehingga masing-masing dapat memperbarui hidupnya.

Sulit mengampuni menjadi tanda bahwa kita belum sungguh-sungguh mengalami kasih Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita memohon pencurahan rahmat dari-Nya agar kita dimampukan untuk mengampuni sesama.