Maria dan Syukur

Minggu, 18 Agustus 2019 – Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

44

Lukas 1:39-56

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

***

Diangkatnya Maria ke surga merupakan sebuah peristiwa di mana Allah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada Maria. Dipilih sebagai bunda Yesus, sang Penebus, merupakan rahmat terbesar sekaligus tugas terberat yang diterima oleh Maria dari Allah. Namun, di samping visi besar sebagai Bunda Penebus, Maria sendiri menunjukkan sikap-sikap hidup yang didasari oleh keutamaan yang luhur. Inilah yang membuat Maria menerima kemuliaan sejati dari Allah.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan hal-hal dan peristiwa kehidupan yang membawa Maria kepada kemuliaan. Berbagai macam keutamaan dalam kehidupan menjadikan Maria wanita yang luar biasa, bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di mata Allah. Sikap dasar yang membuat Maria mengalami kemuliaan dari Allah adalah kemampuannya untuk bersyukur. Rasa syukur Maria diungkapkan dengan panjang lebar dalam sebuah kidung yang disebut Magnificat.

Rasa syukur Maria semakin tampak dengan apa yang dia lakukan, yaitu mengunjungi Elisabet yang mengandung di usia lanjut. Inilah buah dari rasa syukur, di mana hidup tidak hanya berpusat pada diri sendiri, tetapi mampu berbagi dan menjadi peneguh bagi sesama. Kedua wanita ini jelas memiliki beban yang sama-sama berat. Maria menanggung beban karena mengandung sebelum mempunyai suami, sedangkan Elisabet menanggung beban psikis maupun fisik karena mengandung di masa senja. Maria yang dipenuhi rasa syukur mampu keluar dari diri sendiri untuk meneguhkan orang lain yang mengalami kesulitan.

Dalam kehidupan, sering kali kita lebih memperhatikan diri sendiri, lebih-lebih ketika menghadapi masalah, beban hidup, dan persoalan pribadi. Dalam situasi seperti itu, hampir mustahil bagi kita untuk peduli pada kesulitan orang lain, meskipun bisa jadi kesulitan orang itu lebih berat daripada yang kita alami. Oleh karena itu, marilah kita meneladani Maria.

Diangkat ke surga merupakan anugerah besar Allah kepada Maria karena kemampuannya dalam bersyukur: bersyukur bukan karena hal-hal yang menyenangkan, tetapi dalam menerima segala penyelenggaraan Allah. Secara konkret, syukur itu terungkap dalam bentuk kepedulian terhadap sesama, terlebih terhadap yang menderita dan menghadapi situasi sulit.