Hati yang Jernih adalah Sumber Kebenaran

Rabu, 28 Agustus 2019 – Peringatan Wajib Santo Agustinus

181

Matius 23:27-32

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!”

***

Lagu berjudul Panggung Sandiwara kiranya sangat populer dan dikenal oleh kita semua. Berikut adalah sepotong liriknya: “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah … Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura…”

Lagu tersebut mengungkapkan bahwa dunia merupakan panggung sandiwara, di mana para pemainnya memerankan apa yang harus dipertontonkan, bukan apa yang asli. Dalam kesempatan ini, mari kita merefleksikannya. Benarkah dunia ini panggung sandiwara? Benarkah dunia ini penuh kepalsuan?

Dalam bacaan Injil, lagi-lagi kita disuguhi kritikan Yesus terhadap cara hidup orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang begitu jauh dari apa yang dikehendaki Allah. Mereka orang terkemuka, tetapi hati mereka ternyata sangat kelam. Ucapan-ucapan mereka sangat baik, ketika menyampaikan firman Allah pun mereka sanggup membuat para pendengar terpukau. Sayang, mereka tidak melakukan apa yang mereka katakan. Di luar mereka tampak baik, siapa sangka hati mereka penuh kebusukan. Namun, Allah memperhatikan isi hati manusia, yang adalah sumber kebenaran. Manusia bisa menipu sesamanya, tetapi tidak bisa menipu Allah.

Bacaan Injil hari ini kiranya mengajak kita untuk menyelaraskan antara ucapan dan tindakan lahiriah. Sudahkah hal itu mencerminkan hati kita sebagai sumber kebenaran? Kita diajak untuk mengikis sikap-sikap munafik yang masih ada dalam diri kita dengan cara berhenti  mengutamakan kepentingan sendiri. Caranya antara lain dengan belajar menghargai pendapat orang lain dan bersedia menerima kritikan.

Jadi, apakah dunia ini panggung sandiwara yang penuh dengan kepura-puraan? Dalam arti tertentu bisa jadi hal itu benar, tetapi bagaimanapun sebagai umat kristiani kita diajak untuk menjadikan dunia ini jembatan bagi kita demi mencapai kehidupan kekal bersama Bapa di surga.