Perkataan dan Pengajaran yang Penuh Kuasa

Selasa, 3 September 2019 – Peringatan Wajib Santo Gregorius Agung

66

Lukas 4:31-37

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah darinya!” Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar darinya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

***

Yesus kembali ke Kapernaum setelah lolos dari amukan kemarahan dan kebencian penduduk Nazaret, orang-orang sekampung-Nya. Kapernaum dijadikan sebagai basis kegiatan yang baru karena banyak karya pelayanan-Nya berlangsung di sini. Yesus mengajar di sinagoga Kapernaum pada hari-hari Sabat. Pengajaran-Nya membuat banyak orang takjub karena Ia berkata-kata dengan penuh kuasa. Ini berbeda dengan pengalaman di Nazaret, di mana perkataan dan pengajaran Yesus yang penuh kuasa tidak diakui dan malah menimbulkan kemarahan.

Ahli-ahli Taurat memperkuat ajaran mereka dengan mengutip perkataan para pendahulu. Hal ini berbeda dengan pengajaran Yesus. Dia mengajar dengan penuh kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi-Nya pada waktu pembaptisan, yang telah memenuhi diri-Nya, dan yang ada pada-Nya. Kuasa Roh Kudus inilah yang membuat Yesus berbicara dan mengajar lebih daripada para rabi Yahudi yang banyak mengutip ajaran-ajaran dari rabi-rabi sebelumnya ketika menafsirkan kitab Taurat dan kitab para nabi. Pembicaraan dan ajaran Yesus yang penuh kuasa membuat banyak orang kagum dan takjub.

Kuasa dalam perkataan dan pengajaran Yesus bahkan diakui oleh roh-roh jahat. Roh-roh jahat yang merasuki seorang yang hadir di sinagoga mengakui bahwa Allah hadir dan berkarya dalam diri Yesus. Namun, Yesus membentak dan menyuruh mereka diam. Istilah “membentak” khas dalam kisah pengusiran roh-roh jahat, dan lagi-lagi menggarisbawahi pergulatan Yesus yang dipenuhi Roh Kudus dengan kekuatan jahat. Pergulatan ini dimenangkan oleh Yesus, sehingga roh-roh jahat itu berhasil diusir keluar tanpa menyakiti orang yang dirasukinya.

Bagaimana caranya agar perkataan dan pengajaran kita penuh kuasa? Caranya adalah dengan menjalankan secara konkret segala sesuatu yang kita katakan dan kita ajarkan. Teladan dan kesaksian hidup yang nyata lebih berbicara dan berdaya daripada kata-kata belaka, sebab kata-kata tanpa perbuatan adalah mati.