Puasa Orang Farisi versus Puasa Yesus

Jumat, 6 September 2019 – Hari Biasa Pekan XXII

64

Lukas 5:33-39

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

***

Sejak seorang Lewi dipanggil menjadi murid Yesus dan ditanggapinya dengan mengadakan perjamuan besar bagi Yesus, dihadiri oleh rekan-rekan sesama pemungut cukai (Luk. 5:27-32), orang Farisi dan ahli Taurat mengamati-amati Yesus dengan cermat dan mencari cara untuk mengkritik-Nya demi mendapatkan simpati publik. Mereka berkeberatan dengan tindakan Yesus makan-minum dengan para pendosa. Keberatan ini ditanggapi Yesus dengan mengatakan bahwa Dia datang sebagai seorang tabib untuk menyembuhkan orang sakit, sehingga tidaklah mengherankan jika Dia menghabiskan waktu bersama para pendosa.

Dalam perikop yang kita renungkan hari ini, orang Farisi lagi-lagi mengkritik Yesus. Yang dipermasalahkan kali ini adalah murid-murid Yesus yang tampaknya tidak pernah berpuasa. Mereka diperbandingkan dengan murid-murid Yohanes yang rajin berpuasa. Secara implisit dengan itu mereka berkata bahwa Yesus dan para pengikut-Nya tidak sesaleh Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Orang Farisi berpuasa dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis. Meski mungkin berlebihan jika dikatakan bahwa semua orang Farisi munafik –Nikodemus dipandang sebagai orang Farisi yang tulus – namun banyak di antara mereka yang memang munafik karena melakukan ritual puasa untuk menutupi hati mereka yang egois.

Kritikan orang Farisi ditanggapi Yesus dengan berkata, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Tanggapan ini tampaknya ingin mengatakan bahwa sama seperti mereka tidak akan berpuasa ketika menjadi tuan rumah dalam perayaan pernikahan, demikian juga para murid Yesus tidak akan berpuasa ketika Dia mewartakan Kerajaan Allah. Pada saatnya, murid-murid Yesus akan berpuasa, yakni pada waktu penyaliban dan kematian-Nya.

Melalui tanggapan itu, kita diajak untuk tidak mudah menghakimi orang lain yang tidak melakukan ritual agama sesuai dengan standar dan peraturan religius hidup kita. Kita juga diajak untuk tidak melakukan kesalehan dalam hidup beragama seperti orang munafik yang melakukannya untuk mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang lain.