Tuhan atas Hari Sabat

Sabtu, 7 September 2019 – Hari Biasa Pekan XXII

57

Lukas 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

***

Beberapa orang Farisi lagi-lagi mengkritik tindakan para murid Yesus yang memetik bulir gandum sambil berjalan dan memakannya karena mereka lapar. Tindakan para murid ini dikritik karena bertentangan dengan hukum Sabat. Memetik gandum dan memakannya tidak bertentangan dengan Hukum Taurat (Ul. 23:25). Yang menjadi soal adalah mengapa tindakan itu dilakukan pada hari Sabat. Orang-orang Yahudi yang taat menjalankan hukum Sabat – dari matahari terbenam Jumat petang hingga matahari terbenam Sabtu petang –menghormati Tuhan pada hari itu dengan tidak melakukan pekerjaan apa pun. Mereka dilarang melakukan pekerjaan karena Allah sendiri juga beristirahat pada hari yang ketujuh (Kel. 20:11; Kej. 2:2-3).

Apa tanggapan Yesus terhadap kritikan itu? Yesus mengingatkan mereka akan Daud yang melarikan diri karena hendak dibunuh oleh Raja Saul (1Sam. 21:1-9). Dalam pelariannya, Daud meminta lima roti, dan Imam Ahimelekh memberikan kepadanya roti kudus yang dipersembahkan kepada Allah. Menurut Im. 24:5-9, roti ini dikhususkan untuk para imam dan harus dimakan di tempat kudus. Namun, Imam Ahimelekh memberikan beberapa kepada Daud dan orang-orang yang melarikan diri bersamanya. Dia melakukan hal itu karena Daud adalah raja pilihan Allah, sedang melaksanakan misi yang suci, dan sedang lapar.

Apa yang ingin dikatakan Yesus dengan mengangkat peristiwa itu? Yesus rupanya ingin menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup manusia harus berada di atas peraturan yang bersifat legalistis. Hukum bukan untuk membuat hidup manusia lebih sulit, tetapi untuk membantunya hidup lebih baik dan bermartabat. “Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27).

Dengan ini Yesus memperlihatkan bahwa diri-Nya bukan seorang yang legalis, tetapi seorang yang mencintai manusia. Dia tidak menekankan ketaatan pada hukum sebagai inti ajaran-Nya, tetapi kasih dan pengampunan.

Karena itu, kita diundang untuk tidak menghakimi orang lain hanya dengan berdasarkan pada peraturan legal-formal dalam hidup keagamaan kita. Kita perlu menjadikan sikap dan tindakan Yesus sebagai model dalam menjalankan peraturan dan hukum dalam kehidupan agama kita. Patut disadari bahwa peraturan dan hukum Allah tidak pernah mengesampingkan dan menyingkirkan kebutuhan hidup kita sebagai manusia.