Dahsyatnya Cinta dari Salib

Sabtu, 14 September 2019 – Pesta Salib Suci

47

Yohanes 3:13-17

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain dari Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

***

Salib adalah tanda khas umat kristiani. Ia selalu hadir dalam kehidupan para pengikut Kristus. Di dinding-dinding rumah umat kristiani, salib dapat dijumpai tergantung di sana. Ada juga yang menjadikan salib sebagai aksesori yang melekat di badan, seperti cincin, gelang, kalung, dan anting-anting. Umat Katolik bahkan selalu membuat tanda salib untuk membuka dan menutup doa.

Hari ini kita merayakan Pesta Salib Suci. Kita diajak untuk merenungkan kembali makna salib bagi kita. Bagi orang Yahudi dan Yunani, salib adalah tanda kehinaan dan kebodohan. Namun, bagi kita umat kristiani, salib adalah tanda kemuliaan Allah, yang menunjukkan betapa besar dan luar biasa cinta-Nya terhadap umat manusia. Di kayu salib, Yesus Kristus mengosongkan diri. Mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia, Ia taat sampai mati karena cinta-Nya kepada kita semua.

Dengan penebusan-Nya di kayu salib, Yesus menyatukan kembali hubungan Allah dengan manusia yang terputus karena dosa. Salib bukanlah akhir, melainkan awal terjadinya kebangkitan. Makna salib bukan pada peristiwa kematian, tetapi pada pemuliaan yang dilakukan oleh Allah. Melalui Yesus yang wafat di kayu salib, Allah menebus dosa manusia. Kekudusan manusia dipulihkan, sehingga memperoleh hidup yang baru. Itulah puncak kasih Allah terhadap manusia.

Saudara-saudari yang terkasih, salib bukan hanya tanda, tetapi juga sebagai identitas kita sebagai murid-murid Yesus. Cinta Tuhan yang mahadahsyat dari kayu salib, menjadi kekuatan bagi kita untuk membagikan cinta yang sama kepada sesama. Setiap kali memandang salib, bukan ketakutan dan kegentaran yang kita rasa, melainkan keberanian, kasih, dan harapan. Itulah harta kekayaan kita untuk kehidupan yang penuh cinta. Semoga salib-salib yang membisu di tembok rumah kita hari ini kembali bersinar dan menginspirasi banyak orang akan kekuatan cinta yang luar biasa.