Menerima Kebaruan Kerajaan Allah

Jumat, 4 Oktober 2019 – Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi

44

Lukas 10:13-16

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

***

Injil hari ini masih dalam konteks misi tujuh puluh murid Yesus. Mereka diutus berdua-dua. Ada kesuksesan, ada kegagalan; ada penerimaan, ada juga penolakan. Bagaimana kalau pewartaan para murid ditolak? Yesus menegaskan: umumkan penghukuman terhadap mereka melalui tindakan simbolis mengebaskan debu dari kaki (Luk. 10:1-12).

Hari ini Yesus sendiri mengecam tiga kota Yahudi, yaitu Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, kota-kota tempat Ia sendiri mewartakan Berita Gembira. Wilayah pewartaan tidak luput dari kecaman Yesus karena mereka menolak pewartaan-Nya. Mereka menutup diri dalam keyakinan dan tradisi nenek moyang, sehingga tidak mau menerima kebaruan Kerajaan Allah yang dihadirkan Yesus.

Penduduk Khorazim dan Betsaida bahkan lebih buruk dari penduduk Tirus dan Sidon, dua kota “kafir” yang dalam sejarah dikenal sebagai musuh Israel dan penindas umat Allah. Dua kota ini dahulu menjadi target kecaman para nabi Perjanjian Lama. Yesus menegaskan bahwa dua kota yang merupakan simbol kejahatan itu bahkan akan bertobat jika mendengar pewartaan-Nya dan menyaksikan semua mukjizat yang dibuat-Nya di Khorazim dan Betsaida.

Demikian pula dengan Kapernaum, kota yang menjadi basis gerakan Yesus. Kecaman Yesus terhadap kota ini mengulangi kecaman Nabi Yesaya terhadap kerajaan adidaya Babel yang sombong dan angkuh (Yes. 14:13-15). Keangkuhan itu akan dihukum Allah dengan menempatkan mereka pada tempat terendah di dunia orang mati.

Kekristenan bukanlah soal sosiologis, yakni menjadi anggota Gereja Kristus, melainkan jati diri yang terus berkembang dan memperbarui diri karena mendengarkan Yesus dan pewartaan para murid-Nya. Kekristenan juga bukanlah soal wilayah, lambang, dan bendera, melainkan komunitas yang terus bertobat. Tidak layak kita berbangga sebagai “daerah Kristen” kalau penduduknya ternyata seperti orang Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum: tertutup terhadap pesan perubahan Injil, serta terus tertawan dalam budaya dan mentalitas lama yang korup, menindas, dan tidak adil.