Doa dengan Lima Permohonan

Rabu, 9 Oktober 2019 – Hari Biasa Pekan XXVII

36

Lukas 11:1-4

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

***

Murid-murid Yesus melihat bahwa murid-murid Yohanes sering berpuasa dan berdoa. Mereka juga melihat bahwa Yesus senantiasa meluangkan waktu untuk berdoa. Karena itulah salah seorang murid kemudian meminta Yesus untuk mengajari mereka berdoa. Perbandingan dengan ajaran Yohanes menegaskan kuasa kenabian yang dimiliki oleh kedua tokoh itu. Doa yang diajarkan Yohanes dan Yesus tentulah istimewa karena keduanya adalah nabi yang tentu saja memiliki hubungan khusus dengan Allah.

Yesus lalu mengajar mereka sebuah doa yang sekarang kita sebut sebagai Doa Bapa Kami. Doa ini relatif singkat dan terdiri dari lima permohonan. Kalau kita berdoa, demikian Yesus menegaskan, tinggalkanlah sikap egois. Jangan sampai doa kita dari depan sampai belakang isinya minta ini dan itu demi kepentingan diri sendiri.

Seperti diajarkan-Nya di sini, dua permohonan awal dalam Doa Bapa Kami justru menyangkut diri Bapa sendiri, yaitu agar nama-Nya dikuduskan dan agar Kerajaan-Nya segera datang. Para murid pertama-tama hendaknya memohon agar Allah menguduskan nama-Nya dan agar kekudusan itu diakui oleh semua orang. Dengan begitu, semoga pemerintahan Allah yang berdaulat segera terwujud.

Sesudah itu barulah kita memohon agar Allah memerhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Permohonan pertama menyangkut hal mendasar bagi hidup manusia, yaitu makanan. Dalam permohonan ini terkandung harapan agar Bapa sudi menjamin kelangsungan hidup kita, dan agar Ia berkenan menjaga hidup kita secara menyeluruh.

Permohonan kedua menyangkut pengampunan dosa. Permohonan ini sering disalahpahami sebagai suatu tawar-menawar, di mana Bapa diminta mengampuni dosa kita karena kita sudah mengampuni dosa orang lain. Apa pun rumusan kalimat yang dipilih, sebenarnya yang mau ditekankan di sini adalah perlunya semua pihak memiliki semangat saling mengampuni agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan damai dan tenteram, jauh dari rasa dendam dan kebencian.

Permohonan ketiga, yakni janganlah membawa kami ke dalam pencobaan lahir dari gagasan yang berkembang waktu itu bahwa segala sesuatu datang dari Tuhan, baik berkat maupun musibah. Karena itu, para murid diajarkan untuk memohon agar Allah mau menghindarkan diri mereka dari pencobaan. Kesadaran baru bahwa Allah tidak mencobai manusia yang berkembang pada masa kemudian dapat kita lihat dalam Yak. 1:13.

Doa Bapa Kami menunjukkan kedekatan Yesus dengan Tuhan, sebab pertama-tama langsung menyapa Tuhan sebagai Bapa. Tuhan bukanlah sosok yang jauh di atas sana. Bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa-Nya. Sebagai Anak, Ia dapat meminta apa saja, termasuk mempercayakan diri-Nya kepada Bapa. Para murid dan kita semua diajari-Nya untuk juga melihat Tuhan sebagai Bapa. Dengan begitu, sebuah hubungan baru akan terjalin, sebab Tuhan tidak lagi jauh dari kita, melainkan dekat.