Bekerja dengan Kuasa Allah

Jumat, 11 Oktober 2019 – Hari Biasa Pekan XXVII

28

Lukas 11:15-26

Tetapi ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.”

***

Suatu ketika Yesus mengusir setan yang membuat seseorang menjadi bisu. Perbuatan itu baik, tetapi perbuatan baik tidak selalu mendapat apresiasi dari orang lain. Terdorong oleh permusuhan, kebencian, dan rasa tidak suka, beberapa orang Farisi memberikan komentar negatif. Tanpa memedulikan fakta bahwa tindakan Yesus itu telah membebaskan seseorang dari penderitaan – hal yang tidak mampu mereka lakukan – orang-orang itu dengan nada menghina mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa bos besar setan, yakni Beelzebul.

Tuduhan tersebut ditanggapi Yesus dengan dua cara. Pertama, Ia mengajak orang-orang itu memakai logika. Setan sangat kuat, banyak orang tidak berdaya menghadapi mereka. Hal ini bisa terjadi karena segenap setan bersatu padu dalam upaya mereka menggoda dan menaklukkan manusia. Bagaimana mungkin setan bisa kuat kalau setan yang satu mengusir setan yang lain? Setan tidak mengusir setan, sesuai dengan kesadaran bersama bahwa “sesama setan dilarang saling mendahului.” Beelzebul sebagai yang berkuasa di antara para setan juga tidak mungkin mengusir anak buahnya yang berhasil menguasai seseorang. Ia justru akan bersukacita karenanya.

Kedua, Yesus menunjukkan fakta bahwa murid-murid orang Farisi juga mengusir setan. Kalau Yesus mengusir setan dengan kuasa pemimpin setan, dengan kuasa apa mereka melakukan hal yang sama? Jangan-jangan dengan kuasa pemimpin setan juga!

Menghadapi ketidakpercayaan seperti itu, Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk menyadari bahwa Ia bekerja dengan menggunakan kuasa Allah. Setan-setan takluk kepada-Nya, dan itulah tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Ingin terbebas dari gangguan kuasa kejahatan? Syaratnya cuma satu: bersatu dengan Yesus. Syarat yang sama berlaku juga bagi orang yang sudah dibebaskan dari roh jahat. Sering kali hal itu membuat yang bersangkutan merasa aman, lalu lupa menjaga diri dan bersikap waspada. Akibatnya, ia kembali berbuat jahat, bahkan lebih jahat dari sebelumnya.

Melalui bacaan ini, kita juga diundang untuk membuka hati agar sanggup menyadari karya Roh Kudus yang terjadi di sekitar kita. Sungguh terlalu kalau karya Roh Kudus sampai kita anggap sebagai karya roh jahat. Roh Kudus berkarya kapan saja dan melalui siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bisa jadi Roh Kudus berkarya dengan perantaraan orang yang kurang kita sukai. Kalau hal itu terjadi, jangan sampai perasaan tidak suka itu membuat kita buta dan menyangkal kehadiran Yang Ilahi. Justru dengan itu hendaknya kita menyadari bahwa kebaikan selalu ada dalam diri setiap orang.