Semua Tampak Jelas di Hadapan Allah

Minggu, 27 Oktober 2019 – Hari Minggu Biasa XXX

47

Lukas 18:9-14

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Entah baik atau buruk, benar atau salah, kaya atau miskin, berpangkat atau tidak berpangkat, hidup kita semua tampak dengan sangat jelas di hadapan Allah. Allah tidak bisa dibohongi ataupun ditipu. Ia adalah sang Mahakuasa dan Mahatahu. Karena itu, ketidakjujuran yang ada di hati dan yang diucapkan oleh mulut manusia tidak akan tahan berhadapan dengan-Nya. Bukan hanya itu, semua ketidakjujuran yang ada dalam diri kita terbuka sepenuhnya di bawah penilaian Allah.

Pemungut cukai dalam perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus hari ini adalah gambaran orang yang dibenarkan Allah. Orang ini dibenarkan karena kejujuran dan kerendahan hatinya saat berdoa. Sebaliknya, orang Farisi adalah gambaran manusia yang gemar menyombongkan diri di hadapan Allah. Apakah orang Farisi ini berkata jujur dalam doanya, dalam arti benar-benar melakukan semua yang ia katakan? Bisa jadi demikian. Namun, Yesus tidak berkenan karena orang ini menjadikan perbuatan-perbuatan baik tersebut untuk meninggikan diri di hadapan Allah, sekaligus merendahkan orang lain.

Yang Yesus kehendaki adalah sikap seperti si pemungut cukai. Di saat berdoa, orang ini merasa diri tidak layak di hadapan Allah. Ia mengakui kerapuhannya dan bersedia memperbaiki hidupnya. Saudara-saudari sekalian, marilah kita mencontoh sikap tersebut. Semoga dalam hidup ini kita semakin jujur dan rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Amin.