Mencari Domba yang Hilang

Minggu, 3 November 2019 – Hari Minggu Biasa XXXI

46

Lukas 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

***

Kisah Zakheus disusun Lukas untuk menggambarkan misi yang diemban Yesus dalam perjalanan hidup-Nya. Yesus saat itu sudah mendekati Yerusalem. Ia memasuki Yerikho, kota besar terakhir yang harus dilalui seseorang jika ingin ke Yerusalem. Kehadiran Yesus di Yerikho mendapat sambutan meriah. Masyarakat berkerumun menyambut-Nya, meski sebagian mungkin hanya mau melihat-lihat saja.

Salah seorang di antara mereka adalah Zakheus. Bos besar para pemungut cukai ini tidak mau ketinggalan ingin melihat sosok fenomenal bernama Yesus. Motivasinya memang sekadar hendak melihat, tidak ada yang lain. Meskipun begitu, cukup jelas bahwa Zakheus memiliki niat baik dan memandang Yesus secara positif.

Namun, keinginan Zakheus tidak bisa terwujud begitu saja. Ada banyak orang menyambut Yesus, sehingga Zakheus yang pendek sulit untuk bersaing. Untunglah ia punya jiwa pantang menyerah. Terdorong oleh hasrat yang menggebu-gebu, tiba-tiba saja Zakheus punya ide memanjat pohon ara agar dapat melihat Yesus. Tindakan nekat ini dengan segera mendatangkan tiga keuntungan baginya: (1) Ia dapat melihat Yesus; (2) Yesus melihat dan menyapa dirinya; dan (3) Yesus bahkan berniat menumpang di rumahnya.

Zakheus bagaikan mendapat durian runtuh. Bagaimana tidak, rumahnya mau disinggahi Yesus! Sebagai orang yang dikucilkan masyarakat, kunjungan ini sangat berarti. Namun, bagaimana reaksi orang banyak mendengar keputusan Yesus? Menurut Lukas, “semua orang mulai bersungut-sungut.” Mereka kecewa karena orang yang mereka kagumi malah memilih menumpang di rumah orang berdosa.

Yesus sengaja mengunjungi rumah Zakheus karena itulah tugas perutusan-Nya, yaitu untuk mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang. Selanjutnya akan terbukti bahwa keputusan itu tepat, sebab Zakheus kemudian menyatakan pertobatannya. Bagaimana dengan orang banyak yang kecewa terhadap Yesus? Yesus hendak mendidik mereka dengan peristiwa ini. Selain Zakheus, orang-orang itu rupanya juga harus bertobat!

Membaca perikop ini, kita disarankan untuk memainkan peran sebagai orang banyak yang suka menggerutu. Lukas memang ingin mendidik sekaligus mengkritik kita yang sering keliru bersikap terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang kita remehkan sebagai kaum pendosa. Kita cenderung menjauhi mereka, bukannya berupaya untuk merangkul mereka kembali. Tepatkah pendekatan seperti itu? Coba kita renungkan lagi, siapa tahu sikap itu justru membuat jumlah orang berdosa semakin banyak.

Yesus datang mengemban sebuah misi yang besar, yaitu untuk mencari dan mengembalikan yang hilang. Ia menegaskan bahwa orang berdosa jangan dijauhi, tetapi harus dicari. Itulah kehendak Bapa yang mahakasih, itulah pula yang dilakukan Yesus. Sayang banyak orang kurang memahami misi tersebut dan menolak pilihan Yesus untuk selalu dekat dengan orang berdosa. Mungkin kita perlu sadar bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, yakni kesempatan untuk memperbaiki hidup. Mungkin juga kita mesti ingat bahwa kita pun banyak melakukan kesalahan dan perlu dimaafkan orang lain.