Gereja sebagai Komunitas Tubuh Kristus

Sabtu, 9 November 2019 – Pesta Pemberkatan Basilik Lateran

46

Yohanes 2:13-22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

***

Pesta Pemberkatan Basilik Lateran dan Injil hari ini mengajak saya untuk bertanya lebih jauh mengenai pengertian Gereja. Gereja bukanlah semata-mata bangunan ataupun gedung, melainkan komunitas umat beriman dalam satu pengakuan iman sebagaimana diungkapkan dalam Syahadat Aku Percaya. Saya semakin antusias ketika menemukan gagasan bahwa Gereja adalah komunitas Tubuh Kristus dalam Roh Kudus. Apa artinya? Tulisan Mgr. Ignasius Suharyo berikut ini kiranya dapat memberi pengertian tentang hal itu.

“Dalam Ekaristi, dua kali Roh Kudus dimohonkan kedatangannya. Pertama, daya Roh Kudus dimohon turun atas roti dan anggur agar roti dan anggur ini menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Kedua, ketika kita memohon agar Roh Kudus mengubah komunitas yang telah dikenyangkan oleh Tubuh dan Darah Kristus menjadi satu Tubuh dan satu Roh dalam Kristus.

Gereja tidak bisa menjadi komunitas Tubuh Kristus dengan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu, Gereja menyandarkan diri pada karya Roh Kudus. Roh Kudus ini mencurahkan berbagai anugerah kepada anggota-anggota tubuh untuk kebaikan seluruh tubuh. Kesatuan yang merupakan karya Roh Kudus tidak terbatas pada umat setempat. Karena Roh itu satu, umat setempat dimasukkan ke dalam suatu persekutuan yang meliputi seluruh Gereja.

Kesatuan kita mengatasi atau melampaui batas-batas etnis, budaya politik, atau batas-batas apa pun. Disebutnya nama paus dan uskup setempat mengungkapkan kesatuan universal itu. Sebagai bangsa atau bahkan sebagai warga umat manusia, kita terus mencari jalan untuk semakin bersaudara. Bahaya untuk pecah dan saling bermusuhan amatlah nyata. Benih-benih perpecahan itu ada dalam diri semua orang.

Menghayati Ekaristi berarti hidup dengan cara-cara baru yang ditunjukkan oleh Roh Kudus untuk mengembangkan komunitas-komunitas ekumenis, komunitas antarbudaya, komunitas dialog antariman, dan tentu saja komunitas religius. Kalau kebangkitan Kristus dan anugerah Roh Kudus mengatasi tembok-tembok pemisah, kita berharap juga dapat mengembangkan persaudaraan di negeri ini, di masyarakat ini, di keluarga atau komunitas ini.”

Saudara-saudari sekalian, saya dan Anda adalah Gereja. Sebagai Tubuh Kristus, kita harus siap sedia menerima berkat dan dibagi-bagikan kepada semua orang.