Berdoa Tanpa Jemu

Sabtu, 16 November 2019 – Hari Biasa Pekan XXXII

121

Lukas 18:1-8

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

***

Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita menemukan banyak kisah tentang pentingnya doa. Yesus juga menegaskan hal yang sama. Ia senantiasa berdoa kepada Bapa-Nya. Ketika hendak memilih para murid, Yesus berdoa. Ketika hendak membangkitkan Lazarus dari kematian, Ia juga berdoa. Sebelum ditangkap dan disalibkan, Yesus bahkan berdoa secara khusus kepada Bapa di Taman Getsemani. Ia pun mengajarkan Doa Bapa Kami kepada para murid-Nya. Doa itu penting. Karena itu, Yesus mengajak para murid-Nya untuk berdoa tanpa jemu. Hal itu telah Ia teladankan dalam kehidupan nyata.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan pentingnya doa yang tak kenal lelah. Untuk itu, Ia menyampaikan perumpamaan tentang janda yang memohon kepada seorang hakim yang lalim untuk membela perkaranya. Tiga hal bisa kita angkat dari perumpamaan ini, yaitu janda, hakim yang lalim, dan perkataan sang hakim.

Dalam Kitab Suci ada tiga pihak yang sering kali dianggap lemah, yaitu perempuan, anak-anak, dan orang sakit. Perempuan umumnya tidak bekerja. Hidupnya bergantung pada penghasilan sang suami. Karena itulah ia menjadi pihak yang lemah ketika menjadi janda. Tidak ada lagi orang yang bisa ia jadikan sandaran hidup.

Dalam perumpamaan ini ditampilkan pula seorang hakim yang lalim. Mungkin hakim ini disebut lalim karena hanya mau membantu mereka yang mampu membayar. Karena itu, ia sebetulnya enggan untuk membantu janda tersebut.

Namun, janda itu terus saja datang kepadanya. Hakim yang lalim itu akhirnya menyerah. Ia mau membantu perkara janda itu, meskipun terpaksa. Ia berkata dalam hati, “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

Yesus mengajak kita untuk memperhatikan perkataan hakim yang lalim itu. Orang yang lalim, tidak takut akan Allah, dan tidak menghormati seorang pun itu akhirnya mau membela perkara si janda, karena janda itu tidak jemu-jemu, siang dan malam, meminta dia untuk membela perkaranya. Lebih-lebih Allah yang baik dan penuh kasih! Allah pasti akan mendengarkan dan memperhatikan doa-doa kita yang penuh harap kepada-Nya. Karena itu, Saudara-saudari sekalian, jangan jemu dan ragu untuk senantiasa berdoa kepada Allah!