Berjaga-jaga

Kamis, 28 November 2019 – Hari Biasa Pekan XXXIV

44

Lukas 21:20-28

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

***

Merenungkan nubuat tentang runtuhnya Yerusalem dan kedatangan Anak Manusia, kita perlu merenungkan sebuah sikap yang muncul berulang-ulang di dalam Injil, yakni berjaga-jaga. Kita begitu mudah terlena dengan rutinitas harian, sebab segala sesuatu sudah berjalan dengan baik. Namun, kita lupa bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang dinamis. Kita ada dalam perjalanan untuk semakin menyerupai Kristus.

Apa yang terlihat baik belum tentu sejalan dengan semangat Kristus. Mungkin segi hidup liturgis kita sudah baik, namun kehidupan iman bukan hanya tentang liturgi. Masih ada hidup sosial, hidup dalam komunitas, dan aspek-aspek yang lain. Kita diundang untuk berjaga-jaga mengusahakan berbagai aspek kehidupan kita agar semakin dekat dengan cita-cita Kristus.

Berjaga-jaga itu melelahkan. Seorang ibu yang berjaga merawat anaknya yang sedang sakit atau seorang penjaga malam yang berjaga demi keamanan tempat yang menjadi tanggung jawabnya tentu kadang-kadang akan merasakan kelelahan. Namun, pada saat yang sama, mereka pasti juga merasakan manfaat yang luar biasa dari jerih payah mereka.

Kita yang berjaga-jaga akan merawat hidup kita. Kita yang berjaga-jaga akan mampu mengembangkan hidup kita sehingga semakin menyerupai hidup Kristus. Sebaliknya, kita yang suka seenaknya akan resah dan cemas karena kita tidak akan pernah siap menanggapi panggilan Kristus. Marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita diberi kehendak untuk berjaga-jaga. Dengan berjaga-jaga, kita mau serius dengan hidup kita. Dengan berjaga-jaga, kita mau mempersiapkan diri untuk menyongsong rahmat keselamatan dari Tuhan.