Perjamuan Keselamatan

Rabu, 4 Desember 2019 – Hari Biasa Pekan I Adven

38

Matius 15:29-37

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: “Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

***

Yesaya dalam bacaan pertama hari ini (Yes. 25:6-10a) menggambarkan kedudukan serta peran penting Gunung Sion bagi Israel dan bangsa-bangsa yang akan bergabung dengannya. Kelak, demikian ia menyatakan secara metaforis, di Gunung Sion akan diadakan “suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.”

Penggambaran itu tidak hanya menunjukkan keistimewaan Yerusalem, tetapi juga menegaskan bahwa bangsa-bangsa lain pun akan merasakan sukacita yang besar. Itulah yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah sendiri. Allah mengumpulkan setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Ia bersukacita bersama dengan bangsa-bangsa yang bersedia membuka hati bagi-Nya.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini memberi makna perjamuan istimewa tersebut sebagai peristiwa perjumpaan Allah bukan dengan bangsa-bangsa dalam arti politis-kultural, tetapi lebih dalam arti eksistensial, spiritual, dan rohaniah. Allah mengumpulkan semua orang yang membutuhkan kesembuhan dan keselamatan abadi. Ia berjumpa dengan mereka semua.

Apa yang digambarkan oleh Yesaya sebagai “perjamuan besar,” oleh Yesus dikonkretkan melalui karya-karya penyelamatan yang riil, yakni penyembuhan orang yang sakit. Suasana perjamuan yang penuh sukacita akan dirasakan oleh orang-orang yang dipulihkan dari segala penyakit dan penderitaan mereka. Demikianlah, Yesus menyelenggarakan perjamuan bagi orang-orang yang kecil dan terpinggirkan ketika Ia menyembuhkan mereka dari penyakit dan penderitaan yang mereka alami. Oleh Yesus, tangis dan air mata mereka diubah menjadi tawa yang penuh sukacita.