Satu Itu Berharga

Selasa, 10 Desember 2019 – Hari Biasa Pekan II Adven

207

Matius 18:12-14

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

***

Kita cenderung memberi perhatian kepada orang yang berlaku baik, taat, pintar, dan berprestasi. Sebaliknya, terhadap orang yang kelakuannya agak aneh, tidak taat, tidak begitu pintar, kurang tenar, atau kurang berprestasi, kita tidak terlalu memperhatikannya atau malah menganggapnya tidak berarti. Tidak hanya itu, orang semacam ini sering dianggap sebagai sumber masalah. Situasi ini terjadi di mana-mana, baik di rumah, di sekolah, di Gereja, maupun di lingkungan pekerjaan atau pergaulan.

Sang gembala yang baik dalam bacaan Injil hari ini tidak bersikap demikian. Ia justru memberi perhatian khusus kepada domba yang tersesat, domba yang menjadi “sumber masalah.” Ia rela meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba yang lain untuk berusaha mencari serta menemukan seekor domba yang tersesat. Secara matematis, kehilangan seekor domba sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Toh ia masih punya domba yang jumlahnya sangat banyak. Namun, bagi sang gembala, apa pun yang terjadi, ia harus menemukan domba yang hilang itu. Baginya satu itu berharga.

Seburuk-buruknya atau sejahat-jahatnya seseorang di mata manusia, ia tetap berharga di mata Tuhan. Tuhan mengasihi semua orang, termasuk pendosa, orang-orang yang sering tidak taat, dan mereka yang sering menjadi “sumber masalah.” Kita semua adalah orang-orang itu. Kita ini pendosa dan tidak patut membanggakan diri sebagai orang benar atau orang saleh. Kita semua pernah melakukan kesalahan dan dosa. Bedanya, ada yang ketahuan, ada yang tidak ketahuan, dan ada pula yang belum ketahuan. Bagaimanapun Tuhan mengasihi kita semua. Kita yang tidak taat dan tersesat dicari oleh-Nya, sebab kita berharga di mata-Nya.