Kembali kepada Allah

Sabtu, 14 Desember 2019 – Peringatan Wajib Santo Yohanes dari Salib

43

Matius 17:10-13

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

***

Memindahkan gunung rasanya merupakan usaha yang sia-sia. Akan tetapi, itu dulu! Sekarang ini, dengan kecanggihan alat dan teknologi, hal itu bisa dilakukan. Gunung bisa diratakan dan orang bisa membuat gunung yang baru. Ini hanya sekadar contoh bagaimana manusia bisa menciptakan hal-hal yang luar biasa dan mempesona.

Bacaan pertama hari ini (Sir. 48:1-4, 9-11) mengungkapkan kekaguman atas perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Elia. Namun, tugas dan misi Elia yang paling utama adalah mengembalikan hati umat Israel kepada Tuhan. Semua perbuatan ajaib yang dilakukannya menjadi sarana untuk menguatkan tugas dan misi tersebut.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis memang tidak melakukan mukjizat seperti Elia. Akan tetapi, dia berseru-seru agar umat bertobat dan menyiapkan hati bagi Tuhan.

Demikianlah kedua nabi tersebut mengajak kita untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Seruan mereka membawa kita kepada pusat spiritualitas dan misi orang Katolik. Hati kita semestinya selalu kembali kepada Allah. Kita mungkin tidak dipanggil untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib atau luar biasa. Namun, kita semua dipanggil untuk menyadarkan sesama agar bertobat dan kembali kepada Allah. Orang bilang, lebih mudah memindahkan gunung daripada menggerakkan hati manusia. Namun, ketika hati kita digerakkan Allah, kita pasti akan mampu menggerakkan hati orang lain.