Kasih Allah

Rabu, 8 Januari 2020 – Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

31

1 Yohanes 4:11-18

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

***

Kasih Allah membuat kita tenteram, bahkan menjadi sumber kehidupan bagi kita. Kasih Allah sungguh membebaskan kita. Di pihak kita, kita dituntut untuk percaya tanpa syarat kepada-Nya. Kalau kita percaya kepada Allah, kasih-Nya pun akan tinggal di dalam diri kita.

Penulis Surat Yohanes yang Pertama hari ini menyatakan bahwa “di dalam kasih tidak ada ketakutan.” Pernyataan tersebut sangat tepat. Di dalam kasih, tersimpan sukacita yang berlimpah. Di dalam kasih, seseorang akan memberikan yang terbaik dan terindah dari dirinya untuk sesama. Kasih juga akan membangkitkan keberanian kita untuk menapaki kehidupan yang ditunjukkan Allah. Ketika menghadapi kesulitan, kasih akan menuntun kita pada sikap, perkataan, dan tindakan yang benar. Di dalam kasih, kita berani berkorban. Kasih Allah menjadikan hidup kita semakin berarti. Kita mampu untuk hidup di mana pun dan dalam situasi apa pun.

Kasih Allah menjadi orientasi perjalanan kehidupan kita. Dari situlah segalanya dimulai dan kelak akan berakhir. Idealnya, jika kasih Allah menjadi kekuatan kita, kita tidak akan mengalami ketakutan ketika kaki kita melangkah, ketika tangan kita bergerak, dan ketika mulut kita berbicara memberikan kesaksian.

Perasaan waswas atau cemas muncul kalau kita kurang percaya kepada Tuhan. Kita lebih dikuasai oleh kekurangan diri, sehingga cenderung memandang diri kita secara negatif. Kita juga merasa bahwa Allah meninggalkan kita.

Oleh sebab itu, mari kita memantapkan hati kita masing-masing. Allah selalu ada di sekitar kita. Ia bahkan diam dan tinggal di dalam diri kita. Kasih Allahlah yang membuat kita ada, hidup, dan bergerak!