Doa dalam Kesedihan

Selasa, 14 Januari 2020 – Hari Biasa Pekan I

57

1 Samuel 1:9-20

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari-Nya.” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan darimu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, istrinya, TUHAN ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari TUHAN.”

***

Hana yang sering dihina oleh Penina berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu di tempat suci di Silo. Ia membawa kepedihan hatinya kepada Tuhan dan memohon agar Tuhan memperhatikan kesengsaraan yang dialaminya. Ia pun mengucapkan nazar: jika Tuhan mendengarkan doanya dan memberinya seorang anak laki-laki, ia akan mempersembahkan anak itu kepada-Nya.

Imam Eli yang bertugas di tempat suci itu mengamati Hana dan mengira bahwa perempuan itu sedang mabuk. Setelah mendengarkan penjelasan Hana, Eli menyadari rasa cemas dan sakit hati yang sedang dialaminya. Ungkapan kesedihan Hana kemudian dijawab Eli dengan pernyataan bahwa Allah Israel akan mengabulkan permohonan Hana. Hal itu sungguh terjadi. Tuhan mendengarkan permohonan Hana, sehingga setahun kemudian Hana melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinya nama Samuel, artinya “aku telah memintanya dari Tuhan.” Nama anak ini berkaitan dengan kata Ibrani “syaal” yang berarti “meminta.”

Saudara-saudari terkasih, Hana yang bersedih karena sering menerima hinaan menyampaikan keluhannya kepada Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan berkuasa untuk membebaskannya dari penderitaan yang sedang dihadapinya. Ia pun percaya bahwa Tuhan memperhatikan dirinya. Ketika kita berbicara dengan Tuhan, kita berdua dengan-Nya dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Kebersamaan dengan Tuhan, meskipun terjadi dalam suasana sedih, selalu merupakan saat yang indah. Seluruh diri kita terarah kepada Tuhan, sehingga kita “tidak peduli” dengan hal-hal lain di sekitar kita. Mari kita memperhatikan doa kita di waktu senang dan di waktu sedih: doa mana yang kita sampaikan dengan lebih sungguh? Doa mana yang membawa kita lebih mesra dengan Tuhan dan lebih dekat dengan-Nya? Bisa jadi kesedihan justru menjadi saat yang menggembirakan, sebab ketika kita sedih, kita lebih dekat dengan Tuhan dan mengalami penghiburan-Nya.