Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Senin, 20 Januari 2020 – Hari Biasa Pekan II

51

Markus 2:18-22 

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

***

Sering kali terjadi bahwa dalam hidup ini, kita begitu mudah membanding-bandingkan segala sesuatu tanpa merefleksikannya secara mendalam, tanpa mau juga melihat sudut pandang orang lain. Dalam bacaan Injil hari ini, dengan sangat mudah orang-orang membandingkan antara murid Yesus dan murid Yohanes maupun orang Farisi dalam hal berpuasa. Mereka mempertanyakan, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 

Menanggapi pertanyaan itu, Yesus menekankan nilai atau tujuan dari puasa itu sendiri, bukan pada aturan yang mengharuskan seseorang berpuasa. Dalam hal ini, Yesus juga mau menekankan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan haruslah didasari atas iman yang mengarahkan hidup kita pada kebaikan. Berpuasa adalah salah satu tindakan nyata yang sangat bernilai jika dilakukan atas dasar iman dan sukacita dari dalam hati. Berpuasa akan menjadi sia-sia belaka kalau hanya karena disuruh oleh ajaran agama.

Apa pun tindakan baik yang kita lakukan hendaknya jangan dipaksakan untuk dilakukan juga oleh orang lain. Boleh saja kita merasa bahwa iman kita akan semakin diteguhkan dengan berpuasa, tetapi orang-orang lain bisa jadi punya cara tersendiri untuk memperkaya iman mereka. Inilah yang sering kali yang menjadi penyebab terjadinya perselisihan dan perpecahan, yakni ketika kita menuntut semua orang di sekitar kita untuk bersikap dan bertingkah laku sama seperti kita.

Jika kita melakukan suatu tindakan, lakukanlah itu bukan karena disuruh, tetapi karena kita sadar bahwa tindakan tersebut mengandung nilai-nilai yang baik. Yesus hari ini mengajarkan hal itu kepada kita. Kesadaran ini akan membawa kita pada pemahaman bahwa beriman tidak harus sama. Hidup dalam iman akan sangat indah jika kita mau menerima adanya perbedaan. Kita sadar bahwa setiap orang punya alasan, tujuan, serta intensi tertentu dalam menyatakan imannya. Cintailah orang-orang yang berbeda itu tanpa harus mempertanyakan mengapa mereka begini atau mengapa mereka begitu. Iman adalah sikap batin yang meyakini bahwa dalam perbedaan, Tuhan hadir untuk membawa persatuan dan sukacita.