Garam dan Terang Dunia

Minggu, 9 Februari 2020 – Hari Minggu Biasa V

43

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

***

Yesus menampilkan dua gambaran mengenai para murid, yakni garam dan terang dunia. Dua gambaran ini Ia tampilkan dalam situasi dan kondisi hidup masyarakat yang berada dalam kegelapan karena kemerosotan moral. Dalam situasi seperti itu, Yesus menyampaikan sebuah peringatan: garam harus asin dan terang harus bersinar. Tanpa itu, keduanya tidak berguna. Dengan peringatan ini, Yesus menegaskan bahwa panggilan para murid sama dengan panggilan umat Israel, yakni untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.

Para murid dipanggil untuk menjadi terang dunia. Panggilan ini mengingatkan kita pada Yesus sendiri yang menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia (Yoh. 8:12; 9:5; bdk. Yoh. 12:35). Di sini pernyataan diri tersebut diterapkan juga kepada para murid. Namun, pengertiannya tentu saja sangat berbeda. Yesus Kristus adalah terang sejati, sedangkan para murid adalah orang-orang yang memantulkan terang itu. Murid-murid Yesus adalah “terang di dalam Tuhan” (Ef. 5:8). Mereka bercahaya seperti bintang-bintang di dunia (Flp. 2:15). Dengan cara inilah mereka menjadi terang bagi dunia.

Yesus lalu menyatakan bahwa orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah. Ilustrasi ini memperlihatkan fungsi dan peran penting dari para murid untuk memberi terang bagi kegelapan dunia. Memberi terang bukanlah suatu pilihan, yang dapat dipilih atau tidak dipilih, melainkan bagian yang melekat dari panggilan menjadi murid dan sifat dari terang adalah bersinar. Karena mereka telah menerima terang dari Yesus, menerima terang injil, maka para murid dapat menyinari dunia yang gelap.

Karena kita adalah terang dunia dan karena cahaya dimaksudkan untuk menerangi, kita harus membiarkan cahaya kita bersinar agar orang-orang yang melihatnya dapat memuliakan Allah. Cahaya hidup kita harus dibiarkan bersinar melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Perbuatan-perbuatan baik tersebut hendaknya bercahaya di depan orang banyak supaya mereka melihatnya, lalu memuliakan Bapa di surga.

Namun, sejumlah pihak, misalnya saja orang Farisi, memang memastikan bahwa perbuatan baik yang mereka lakukan dilihat oleh orang lain supaya mereka mendapat pujian. Yesus tidak memuji sikap seperti itu. Perbuatan baik hendaknya bercahaya bukan agar kita dipuji sebagai orang-orang yang terhormat, tetapi agar orang-orang yang melihatnya memuliakan Bapa. Tidak ada maksud dan keinginan untuk mendapatkan pujian bagi diri kita sendiri. Kita melakukan perbuatan baik bukan untuk menarik perhatian orang banyak kepada kita, melainkan kepada Dia, sumber cahaya yang menerangi hidup kita.