Belas Kasihan Yesus terhadap Orang Banyak

Sabtu, 15 Februari 2020 – Hari Biasa Pekan V

47

Markus 8:1-10

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

***

Apa yang mendorong Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memberi makan kepada orang sebanyak itu? Jawabannya adalah belas kasihan. Yesus berbelas kasihan kepada orang-orang itu karena mereka tidak memiliki makanan. Dia tidak mau menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan lapar, sebab bisa jadi akan ada yang rebah di jalan, lantaran ada di antara mereka yang datang dari jauh. Yang dimaksud orang-orang yang datang dari jauh ini agaknya adalah orang-orang bukan Yahudi. 

Karena itu dapat disimpulkan bahwa belas kasihan Yesus tidak hanya ditujukan kepada orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang asing. Sebelumnya belas kasihan kepada orang Yahudi telah diperlihatkan dalam mukjizat pemberian makan bagi lima ribu orang (Mrk. 6:30-44). Mukjizat pemberian makan bagi empat ribu orang menunjukkan belas kasihan yang sama, tetapi kali ini ditujukan kepada sebagian besar orang bukan Yahudi. Keberadaan orang-orang asing ini menjelaskan mengapa Markus merasa perlu untuk menyajikan kisah mukjizat yang serupa sampai dua kali.

Para murid mempersoalkan perintah Yesus untuk memberi makan bagi orang banyak karena mereka sedang berada di tempat terpencil. Mereka seolah-olah tidak menyaksikan dan tidak berpartisipasi dalam mukjizat sebelumnya, di mana Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dari lima roti dan dua ikan. Para murid belum juga menyadari bahwa Yesus memiliki kuasa ilahi yang luar biasa.

Yesus kemudian turun tangan secara langsung. Mereka hanya memiliki tujuh roti, tetapi dengan kuasa-Nya, yang sedikit kemudian dibuat-Nya menjadi berlimpah-limpah. Rasa lapar empat ribu orang itu akhirnya terpuaskan. Demikianlah, mukjizat lagi-lagi terjadi berkat kuasa Allah yang hadir dalam diri Yesus. Dengan ini, kita diajak untuk mengenal dan memahami identitas Yesus sebagai Anak Allah yang memiliki kuasa ilahi. Kita diajak pula untuk mengimani bahwa Yesus dapat memenuhi apa yang kita butuhkan, bahkan dalam saat-saat yang paling sulit.