Pilihan Hidup

Kamis, 27 Februari 2020 – Hari Kamis Sesudah Rabu Abu

32

Ulangan 30:15-30

“Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

***

Selain napas kehidupan, anugerah lain yang juga diberikan Allah ketika menciptakan manusia adalah kebebasan untuk memilih. Dari semula, Allah mengharapkan agar Adam beserta keturunannya terampil dalam mengelola anugerah yang unik ini. Namun, sebagaimana kita tahu, sejak awal manusia gagal dalam menjalankannya, gagal dalam memaknai kebebasan secara tepat.

Yang mencengangkan, Allah tidak mencabut anugerah itu dari manusia meskipun manusia sering kali gagal dan gagal lagi dalam menggunakannya secara bertanggung jawab. Anugerah itu tetap tinggal di hati dan budi manusia sampai saat ini. Walaupun mengalami jatuh bangun, dengan anugerah kebebasan yang mereka miliki, manusia diharapkan bisa menemukan kehendak Allah dan membalas kasih-Nya yang tercurah secara luar biasa.

Dalam bacaan pertama hari ini, Allah digambarkan menyodorkan pilihan kepada umat-Nya, yakni berkat atau kutuk. Dari dua pilihan itu, umat harus tegas memilih salah satu, tidak boleh setengah-setengah, tetapi mereka bebas menentukan mau memilih yang mana. Meskipun begitu, sebelum memilih, mereka harus memikirkannya secara bijak dan mendalam, sebab masing-masing pilihan ada konsekuensinya. Jika umat sungguh-sungguh bijak dan berhikmat, tentunya mereka akan memilih untuk setia kepada Allah, sebab dari Dialah tercurah berkat dan kesejahteraan yang melimpah-limpah.

Dengan itu mau ditegaskan bahwa cinta kepada Allah adalah hasil dari pertimbangan yang matang yang dibuat oleh manusia. Keputusan kita untuk memilih salib dan penderitaan juga harus muncul dari lubuk hati kita yang terdalam. Kita memilih jalan ini karena cinta kita kepada-Nya, bukan karena kata orang, bukan karena ikut-ikutan, bukan pula karena terpaksa. Kita menerima anugerah Allah secara bebas; secara bebas pula kita hendak mempersembahkan diri kita kepada-Nya.