Berkualitas Lebih

Jumat, 6 Maret 2020 – Hari Biasa Pekan I Prapaskah

77

Matius 5:20-26

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

***

Yesus ingin agar para murid-Nya berkualitas lebih. Tidak tanggung-tanggung, hidup keagamaan mereka harus lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi. Seperti biasa, pernyataan Yesus senantiasa mengagetkan. Bagaimana mungkin para pendengar-Nya, termasuk para nelayan sederhana yang menjadi pengikut terdekat-Nya, dapat lebih berkualitas dari ahli-ahli agama tersebut?

Tuntutan Kerajaan Allah yang sedang dihadirkan Yesus memang tinggi. Bagaimana tidak, tolok ukurnya adalah kesempurnaan Allah sendiri: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Karena itu, setiap pengikut Yesus dituntut untuk menata tindakan dan kata-kata mereka secara radikal, dan itu sering kali berarti melampaui tuntutan huruf Hukum Taurat.

Pengikut Yesus tentu saja dilarang membunuh. Hukum Taurat menuntut itu dengan jelas dan tegas, sehingga pasti tidak boleh dilanggar. Namun, Yesus menuntut lebih dari itu. Akar kemarahan dan dendam di dalam hati manusialah yang harus dicabut. Selain itu, kekerasan verbal dalam bentuk makian dan umpatan sering kali jauh lebih merusak. Bagi Yesus, itu semua termasuk dosa pembunuhan yang harus diadili dan dihukum.

Itulah yang selalu menjadi sikap Yesus berhadapan dengan Hukum Taurat: Ia tidak membatalkannya, tetapi menggenapinya. Yang Dia genapi bukan huruf atau perkataannya, melainkan maksud terdalam hukum itu, yaitu memajukan relasi yang tepat dengan sesama dan dengan Tuhan.

Yesus juga tidak puas jika hanya berhenti pada prosedur dan penyelesaian hukum saja. Itulah kritik-Nya yang paling mendasar terhadap orang Farisi dan ahli Taurat. Iman harus lebih daripada menaati aturan dan prosedur hukum. Iman adalah relasi, sehingga harus dicari solusi-solusi konkret demi mempererat dan memajukan relasi.

Oleh karena itu, Yesus menawarkan solusi ampuh untuk semua bentuk pembunuhan, yaitu perdamaian. Relasi damai dengan sesama sedemikian penting dan menjadi prasyarat relasi dengan Tuhan dalam ibadat. Tanpa berdamai dengan sesama, ibadat menjadi sakedar pelarian dari masalah antarmanusia. Tanpa perdamaian, ibadat merosot menjadi rutinitas kesalehan, bukan lagi pencarian dan penyembahan yang tulus kepada sang Pencipta.