Roti Hidup

Selasa, 28 April 2020 – Hari Biasa Pekan III Paskah

153

Yohanes 6:30-35

Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

***

Yesus menegaskan bahwa diri-Nya adalah roti hidup. Menyantap roti hidup akan menghadirkan kehidupan yang sejahtera bagi seseorang, kehidupan yang tidak mengenal rasa lapar dan haus, kehidupan yang bebas dari penderitaan. Apa artinya itu? Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita mengingat kembali renungan kemarin, bahwa sebagaimana tubuh membutuhkan makanan agar sehat dan kuat, jiwa kita juga membutuhkannya.

Ada suatu refleksi yang sangat menarik tentang kisah penciptaan. Ketika menciptakan bumi dan segala isinya, Tuhan dikatakan menumbuhkan berbagai-bagai pohon yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya. Akan tetapi, di tengah-tengah Taman Eden, Tuhan menumbuhkan juga pohon pengetahuan dan pohon kehidupan yang buahnya tidak boleh dimakan manusia. Dari kisah selanjutnya, kita tahu bahwa manusia melanggar larangan itu dengan memakan buah dari pohon pengetahuan.

Mengapa manusia tertarik untuk makan buah dari pohon pengetahuan, alih-alih dari pohon kehidupan? Refleksi ini mengatakan bahwa pohon pengetahuan melambangkan hukum, sedangkan pohon kehidupan melambangkan kasih. Orang lebih memilih hukum daripada kasih, padahal kasih lebih agung dari segalanya.

Oleh karena itu, ketika Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai roti hidup, dapat kita refleksikan bahwa Dia menyebut diri-Nya sebagai pohon kehidupan. Menyantap roti hidup akan membangkitkan dalam diri kita semangat dan gerakan untuk mendukung kehidupan, seperti semangat berbagi, berbela rasa, menolak budaya kematian, dan sebagainya. Kehidupan adalah anugerah luar biasa dari Tuhan yang sungguh harus selalu kita syukuri.