Apolos

Sabtu, 23 Mei 2020 – Hari Biasa Pekan VI Paskah

43

Kisah Para Rasul 18:23-28

Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid.

Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

***

Bacaan pertama hari ini berbicara tentang seorang tokoh bernama Apolos. Dia adalah seorang Yahudi yang fasih dalam Kitab Suci. Dia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan meskipun belum secara penuh karena pemahamannya baru sampai pada baptisan Yohanes. Namun demikian, dengan penuh semangat dia berbicara dan mengajar mengenai Yesus. Priskila dan Akwila yang mengetahui hal itu segera mengajarkan lebih banyak lagi tentang Yesus dan ajaran-Nya kepada Apolos. Pemahaman Apolos pun semakin mendalam, sehingga pewartaannya semakin berhasil.

Apolos adalah orang yang rendah hati. Ia mau terus-menerus belajar dari orang lain. Bagaimana dengan kita? Karena memandang diri berbakat, punya kelebihan, dan ahli, sering kali kita menjadi sombong. Kita tidak mau bertumbuh dengan menolak untuk belajar dari orang lain. Sungguh buruk bahwa kita sering kali menjadi bodoh dan sombong pada saat yang sama! Keteladanan Apolos juga mengajak kita untuk terus-menerus bertumbuh dalam pemahaman iman khususnya dengan membaca, memahami, dan menghidupi Kitab Suci.

Ketika Apolos memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Akhaya, jemaat di Efesus mendukungnya dengan mengirimkan surat kepada jemaat di Akhaya. Mereka diminta untuk menerima dan membantu Apolos. Tindakan ini kiranya memberikan gambaran yang bagus tentang Gereja sebagai komunio. Gereja sebagai komunio adalah komunitas umat beriman yang saling membantu, saling meneguhkan, serta saling mendorong satu sama lain agar bertumbuh dalam kasih dan iman. Gereja sebagai komunio adalah Gereja di mana Roh Kudus hidup dan aktif.

Saudara-saudari terkasih, perayaan Pentakosta sudah semakin dekat. Karena itu, marilah berdoa memohon karunia Roh Kudus agar setiap pribadi bisa menjadi Gereja yang saling meneguhkan, saling mendukung, dan saling membantu satu sama lain. Yesus berkata bahwa Ia harus meninggalkan dunia ini untuk mengirimkan Roh Kudus. Apolos juga meninggalkan masa lalunya untuk mengikuti panggilan yang baru. Dengan ini, kita diajak untuk meninggalkan keegoisan dan ketidakpedulian kita guna mewujudkan Gereja sebagai komunio.