Dipanggil Menjadi Pemimpin

Sabtu, 30 Mei 2020 – Hari Biasa Pekan VII Paskah

43

Kisah Para Rasul 28:16-20, 30-31

Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya.

Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: “Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma. Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat suatu kesalahan pun padaku yang setimpal dengan hukuman mati. Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya dan karena itu terpaksalah aku naik banding kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku. Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan berbicara dengan kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini.”

Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.

***

Ajakan Yesus untuk mengikut diri-Nya tentunya bukan tanpa risiko. Paulus yang mengikut Yesus mengalami tantangan dari bangsanya sendiri, yakni bangsa Yahudi. Ia sampai dipenjarakan. Namun, Paulus menghadapi kesulitan-kesulitan itu dengan berani, sehingga menenangkan dan meneguhkan jemaat. Kendati dipenjara, ia tetap mengajar dan mewartakan iman.

Keberanian Paulus mengajarkan kepada kita tentang karakteristik seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus sanggup memberikan ketenangan bagi orang lain, apa pun situasinya. Dalam suasana genting dan mencekam, optimisme seorang pemimpin sangatlah dibutuhkan. Hal ini akan membangkitkan semangat hidup orang-orang yang dipimpinnya.

Kita sebagai pengikut Yesus juga harus menyadari bahwa kita dipanggil untuk menjadi pemimpin. Ini tidak melulu berarti kita mengepalai suatu organisasi, perkumpulan, yayasan, dan sebagainya. Memimpin diri sendiri juga merupakan usaha untuk mewujudkan jiwa kepemimpinan. Artinya, kita sendiri harus memiliki optimisme, semangat, dan iman. Contoh lain adalah menjadi pemimpin di dalam keluarga kita masing-masing. Dengan kesadaran itu, apa pun yang kita lakukan, kita mesti menampilkan identitas kita sebagai pemimpin.

Dalam situasi pandemi sekarang ini, jiwa kepemimpinan yang kuat dapat kita tunjukkan melalui semangat hidup, optimisme, dan kualitas iman. Muara dari semuanya itu tertuju pada tumbuhnya harapan. Harapan adalah tanda adanya keseriusan untuk tetap melangkah maju. Paulus tetap memiliki harapan untuk bisa mewartakan, meskipun situasinya terbatas karena dipenjara. Bagi kita, mungkin kita bisa mulai dengan memberi semangat kepada anggota keluarga atau rekan-rekan kita, menyebarkan gagasan-gagasan yang positif, memelihara keyakinan bahwa situasi sulit ini akan bisa kita hadapi, atau bisa juga dengan melakukan berbagai kegiatan kreatif. Itu semua merupakan cara menampilkan citra pemimpin dalam diri kita masing-masing, dan agar kita sendiri tidak terjebak dalam pesimisme atau keputusasaan.  

Seorang pemimpin sejati lebih bersikap reflektif daripada reaktif. Ia tenang dalam bertindak, alih-alih ikut arus ke sana-sini. Gereja membutuhkan pemimpin-pemimpin yang demikian agar tetap memancarkan cahaya bagi dunia. Dengan jiwa kepemimpinan, situasi hidup yang harmonis, adil, dan rukun selalu terbangun, sehingga pada akhirnya semakin kuatlah pengharapan atas keselamatan bagi semua orang. Mari kita memacu diri untuk menjadi pemimpin melalui berbagai peristiwa hidup yang kita alami. Mari kita belajar untuk memiliki semangat yang konsisten, pikiran yang positif, dan pengharapan yang berkualitas dalam kehidupan kita.