Hidup yang Berpengharapan

Rabu, 3 Juni 2020 – Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga dan Kawan-kawan

39

Markus 12:18-27

Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

***

Lain dari biasanya, lawan Yesus kali ini adalah kaum Saduki, orang-orang yang tidak mempercayai kebangkitan. Dalam rangka menjatuhkan Yesus di depan publik, mereka mempertanyakan tentang kebangkitan kepada-Nya. Jelas bahwa sebelumnya mereka sudah tahu bahwa mengenai hal ini, posisi Yesus berseberangan dengan mereka.

Pertanyaan kaum Saduki dikemas dalam sebuah perumpamaan yang ekstrem dan berlebihan, yakni tentang seorang perempuan dan tujuh bersaudara yang satu demi satu menjadi suaminya. Tindakan mereka ini sudah sesuai dengan ketentuan Taurat (perkawinan levirat, Ul. 25:5). Persoalannya, di alam kebangkitan nanti, siapa gerangan yang akan menjadi suami si perempuan? Mungkinkah tujuh orang itu sekaligus?

Kaum Saduki bermaksud menunjukkan bahwa kebangkitan sungguh merupakan gagasan yang tidak masuk akal. Yesus menanggapi mereka dengan dua jawaban. Pertama, alam kebangkitan berbeda dengan dunia ini. Di sana, hal duniawi seperti “kawin-mengawin” tidak ada lagi. Kedua, Abraham, Ishak, dan Yakub sudah mati, tetapi Allah tetap menyebut diri-Nya Allah mereka. Karena Ia adalah Allah orang hidup, ini berarti dengan satu dan lain cara, para leluhur Israel tersebut masih hidup. Pesan Yesus jelas: kebangkitan itu ada.

Bentuk konkret hidup sesudah mati akan tetap menjadi misteri bagi kita. Yang pasti, kebangkitan adalah anugerah Allah. Keberadaannya menjadi salah satu motivasi agar kita selalu berpengharapan, senantiasa memperjuangkan hal-hal positif dalam kehidupan ini, dan tetap kuat apa pun rintangan yang kita hadapi. Kebangkitan adalah pernyataan bahwa kita tidak akan pernah terpisahkan dari kasih Allah.