Loyalitas kepada Yesus

Minggu, 28 Juni 2020 – Hari Minggu Biasa XIII

29

Matius 10:37-42

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya darinya.”

***

Keluarga merupakan tempat di mana setiap individu memperoleh kasih. Di dalam keluarga pula, setiap individu belajar banyak hal tentang kehidupan. Kita sendiri juga pasti sangat mencintai keluarga kita. Jika ada orang yang melukai ayah ibu kita, baik secara mental maupun fisik, kita rela melakukan apa pun untuk melakukan pembelaan. Jika anak-anak kita mengalami kecelakaan, segala jenis pengobatan diupayakan demi kesembuhan mereka. Dalam hal pendidikan, para orang tua bahkan rela bekerja keras agar dapat memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Merenungkan bacaan Injil hari ini membuat hati kita bertanya-bertanya: Mengapa Yesus mengkritik orang yang lebih mengasihi ayah, ibu, atau anak-anak mereka daripada mengasihi diri-Nya? Yang dikritik di sini sebenarnya kecenderungan untuk mengasihi manusia lebih daripada Tuhan. Mengasihi Tuhan merupakan hal yang pertama dan utama. Jika Tuhan merupakan prioritas hidup kita, Dia haruslah menjadi yang paling utama melebihi apa pun. Sudah seharusnya kita sebagai pengikut Kristus melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, termasuk memanggul salib kehidupan kita dengan penuh sukacita.

Yang disampaikan Yesus hari ini adalah teguran atas keegoisan manusia. Manusia sering kali melukai hati Tuhan dengan mengutamakan kehidupan duniawi. Tidak jarang Tuhan “dijual” dalam mengambil keputusan-keputusan. Pertama, dalam hal pekerjaan. Ketika uang dan jabatan ditawarkan, manusia dengan mudahnya mengabaikan dan melukai hati Tuhan. Kedua, dalam hal pujaan hati. Cinta terhadap seseorang sering kali membuat manusia melupakan Tuhan. Ketiga, dalam hal iman. Manusia merasa bahwa apa yang mereka alami saat ini tidak memerlukan campur tangan Tuhan dan bukan merupakan urusan-Nya.

Betapa sering kita tidak menjadikan Tuhan sebagai yang terutama di dalam hidup kita. Kenikmatan duniawi telah membuat kita lupa akan Dia yang menciptakan alam semesta. Kita memenuhi keinginan duniawi dengan merusak alam sesuka hati. Hutan semakin gundul, es di kutub mulai mencair, laut tercemar, dan iklim pun berubah drastis. Kita mesti melihat peristiwa-peristiwa itu sebagai sapaan Tuhan agar kita lebih setia kepada-Nya, agar kita memberikan waktu khusus untuk menjalin relasi yang mesra dengan-Nya, agar kita memperkuat iman kepada-Nya bersama dengan keluarga. Semoga kita semakin setia kepada Tuhan, dan semoga iman kita semakin bertumbuh dalam kasih.